Saturday, February 22, 2020

Makalah Balaghoh bab Qoshr

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qashr
Qashr adalah mengkhususkan sesuatu pada sesuatu yang lain dengan cara yang khusus.
B. Pembagian Qashr
1. Qashr haqiqi
Mengkhususkan sesuatu itu sesua dengan kenyataannya (tidak digantungkan pada hal lain).
Contoh :
لا كاتب في المدينة الا علي
“Tidak ada penulis di kota Madinah kecuali Ali”
لااله الا الله   
"Tidak ada Tuhan selain Allah"
Qashr haqiqi terbagi menjadi 2 macam :
a. Menentukan maushuf hanya bagi sifat seperti lafadz :
ما زيد الا شاعر
"Tiada zaid kecuali hanya seorang penyair"
b. Menentukan sifat hanya bagi maushuf seperti lafadz :
ما أنا إلا برمثلكم
"Tidak ada aku ini kecuali manusia seperti kalian"
2. Qashr Idhafi
Qashr dengan menghubungkan pada hal tertetu atau meihat pada keadaan mukhatab
ما علي إلا قائم
"Tidak ada Ali kecuali hanya berdiri"
ما خليل إلا مسافر
"Khalil tidak lain adalah berpergian"

Qashr idhafi dibagi menjadi 3 macam :
a. Qashr Ifrad (قصرافراد)
Maksudnya adalah menyendirkan jika mukhattab meyakini bersama.
انما الله اله واحد

b. Qashr Qalb      (قصر قلب)
Maksudnya membalikkan jika mukhattab itu meyakini sebaliknya
رزاعلى من اعتقاد ان المسافر خليل لا علي
c. Qashr Ta’yiin
Maksudnya adalah penentuan jika mukhattab meyakini sesuatu yang tidak tertentu
رذا علي من شك وتردد في ذلك

Setiap Qashr memiliki 2 taraf yaitu Maqsur dan Maqsur ‘alaih
Ada beberapa jalan bagi Qashr :
1. Nafi’ dan Istisna (النفس و الاستشناء) dan Maqsur ‘alaihnya terdapat setelah huruf Istisna
Contoh :
ان هذا الا ملك كريم
"Sesungguhnya ini adalah malaikat yang mulia"
ما شوقي الا شاعر
“Tidak ada syauqi selain penyair”
2. Innama  (انما)dan Maqsur ‘alaihnya adalah lafadz yang wajib disebut Akhir
Contoh :
انما الفاهم علي
“Hanya Ali sajalah yang paham”
انما يخشى الله من عباده العلماء
“Hanya saja para Ulama lah hamba Allah yang takut kepadanya”

3. Juga Athaf dengan La(لا) , Bal (بل) , Lakin(لكن) .
Maqsur ‘alaihnya adalah lafadz yang bertolak belakang dengan lafadz yang jatuh setelah huruf La. Sedangkan apabila Athofnya dengan bal lakin, maka maqsur ‘alaihnya adalah lafadz yang jatuh setelahnya .
Contoh :
الارض متحركة لا ثابتة
"Bumi bergerak tidak diam"

4. Mendahulukan lafadz yang seharusnya di akhirkan, maka maqsur ‘alaikhnya adalah lafadz yang didahulukan.
Contoh :
اياك نعبد اياك نستعين
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”


Makalah Instrumen Evaluasi non Tes

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Instrumen Evaluasi Non Tes
Kata alat biasa juga disebut “instrument”  dalam kegiatan evaluasi, fungsi alat untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi.
Dengan pengertian tersebut maka alat evaluasi diktakan baik apabila mampu mengevaluasi dengan hasil yang dievaluasi dengan hasil evaluator menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi. Ada dua teknik ealuasi yaitu teknn non tes dan teknik tes.
Menurut Wiyono dan Sunarni mengatakan bahawa Teknik non tes adalah teknik evaluasi yang menggunakan alat dan atau instrument non tes dalam mengumpulkan data, seperti observasi, wawancara, kuesioner, inventori, skala sikap, cek, dan sejenisnya.
Non tes biasanya dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain, instrument ini berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan Panca indera.
B. Macam-macam Instrumen Non Tes
1. Skala bertingkat (rating scale)
Skala menggambarkan sutu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Dengan maksud agar pencatatanya dapat obyektif maka penilaian terhadap penampilan atau penggambaran kepribadian seseorang disajikan dalam bentuk skala.
Contoh:
Kecenderungan orang terhadap progam bahasa Arab tertentu:

1 2 3 4 5
1: Sangat tidak setuju
2: Tidak setuju
3: Biasa
4: Suka
5: Sangat suka
2. Kuesioner (questioner)
Kuesioner juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner adalah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kuesioner ini dapat diketahui tentang keadaan/ data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya dll.
a. Tentang macam kuesioner dapat ditinjau dari beberapa segi:
1. Kuesioner langsung, jika kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang dimintai jawaban tentang dirinya.
2. Kuesioner tidak langsung, jika kuesioner yang dikirimkan dan diisi oleh bukan orang yang diminta keterangan tidak langsung biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan, anak, tentangga, dsb.
b. Ditinjau dari segi cara menjawab
1. Kuesioner tertutup, kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
2. Kuesioner terbuka, kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya.

3. Daftar cocok (chek list)
Yang dimaksud dengan daftar cocok adalah (chek list) adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat- singkat), dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok () ditempat yang suah disediakan.
Contoh : Berilah tanda (v) pada kolom sesuai dengan pendapat anda
Pendapat
  Pertanyaan Penting     Biasa Tidak penting
1. Melihat pemandangan indah V
2. Mencari ilmu tiap hari V
3. Mendatangi pengajian V
4. Belajarbernyanyi qasidah v
Ada pendapat yang mengatakan bahwa sebenanya skala bertingkat dapat digolongkan kedalam daftar cocok karena dalam skala bertingkat, responden juga diminta untuk memberikan tanda cocok pada pilihan yang tepat.
4. Wawancara (interview)
Wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara ini responden ini tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan hanya diajukan oleh subjek evaluasi.
Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara berstruktur dan wawancara bebas (tak berstruktur). Dalam wawancara berstruktur kemungkinan jawaban telah disiapkan sehingga siswa tinggal mengategorikannya kepada alternative jawaban yang telah dibuat.
Keuntungannya mudah diolah dan dianalisis untuk dibuat kesimpulan. Sedangkan pada wawancara bebas, jawaban tidak perlu disiapkan sehingga siswa bebas mengemukakan pendapatnya. Keuntungannya informasi lebih padat dan lengkap sekalipun kita harus bekerja keras dalam menganalisanya sebab jawabanya beraneka ragam. Hasil atau jawaban tidak bisa ditafsirkan langsung, tetapi perlu analisis dalm bentuk kategori dimensi- dimensi jawaban, sesuai dengan aspek yang diungkapkan.

5. Pengamatan (observation)
Pengamatan atau observasi  adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
Ada 3 macam observasi :
a. Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam pada itu pengamat memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati .
b. Observasi sistematik, yaitu observasi dimana faktor- faktor yang diamati sudah didata secara sistematis dan sudah diatur menurut kategorinya.
c. Observasi eksperimenal, yaitu terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsur – unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi itu dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.

6. Riwayat hidup
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subyek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari obyek yang dinilai.

MAKALAH PENERJEMAHAN MODEL GENERATIF

BAB II
Pembahasan
A. Pengertian Penerjemahan Model generatif
Penerjemahan model generatif tidak lepas dari Teori Transformatif-Generatif.
Pada hakekatnya bahasa merupakan suatu kesatuan yang terdiri
dari beberapa aspek ketatabahasaan yaitu fonology, syntax, morfonologi,
dan semantic .Oleh karena itu dalam pembelajaran bahasa ataupun
bahasa asing memerlukan beberapa langkah-langkah penting dalam
proses pembelajarannya, diantaranya: pendekatan, metode, dan teknik
pembelajarannya. Dalam pembelajaran bahasa kita mengenal adanya beberapa pendekatan, diantaranya: pendekatan humanistik (Humanistic Approach),pendekatan berasaskan media (Media Based Approach), pendekatananalisis dan non-analisis (Analytical And Non-Analytical Approach), dan pendekatan komunikatif (Communicative Approach). Pendekatan komunkatif merupakan pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang berhubungan dengan proses yang dilaksanakan manusia dalam bentuk bahasa yang diucapkan untuk mendapatkan pengetahuan dan sarana untuk saling bertukar pikiran.
Dalam pandangan Noam Chomsky pendekatan komunikatif memiliki bentuk yang berbeda. Pendekatan komunikatif menurutnya berhubungan langsung dengan psikologis manusia dan juga teori transformatif-generatif yang ia kemukakan. Pendekatan komunikatif menurutnya mencakup distingsi bahasa dalam teorinya yaitu compe- tence, performance, deep structure, surface structure, dan communicative competence.
1. Kompetensi Bahasa (Language Competence)
Teori transformatif-generatif telah menekankan bahwasannya ada
tiga aspek dalam segala bahasa yang membantu mencapai komunikasi
yang berhasil yaitu: aspek sintaksis, aspek fonologi, dan aspek semantik. Dari ketiga aspek ini dapat diketahui sejauh mana kemampuan bahasa
seseorang. Dalam teori transformatif generatif language competence adalah kemampuan berbahasa dasariah manusia yang mencakup kemampuan secara implisit untuk mengerti sebanyak mungkin kalimat.
Noam Chomsky menekankan bahwasannya kompetensi bahasa bukan merupakan kemampuan tentang kaedah-kaedah bahasa dalam otak manusia dan kemampuan dasar manusia dalam memperoleh bahasanya tetapi ia merupakan kemampuan dasar anak yang akan memudahkan seorang anak dalam memperoleh pengetahuan tentang bahasa dan menjadi anggota komunitas bahasa tersebut.
2. Performansi Bahasa (Performance)
Dalam kajian ketatabahasaan terdapat bentuk lain yang mendapat
perhatian para pengikut teori transformatif-generatif yaitu performansi
bahasa yang mereka gambarkan sebagai bentuk bahasa yang dapat dirasa-kan dalam kegiatan komunikatif . Sebagaimana halnya dengan surface
structure, performansi bahasa mencakup bahasa lisan dan bahasa tulisan
yang diibaratkan sebagai hasil yang nyata dari kegiatan berfikir otak.
Dalam teori transformatif-generatif performansi bahasa merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan berbahasa. Sebagaimana kompetensi bahasa yang merupakan kemampuan yang dimiliki
oleh setiap orang yang memungkinkannya untuk mengungkapkan keinginannya dalam bentuk bahasa baru, maka performansi adalah bentuk
nyata yang dapat dirasakan dalam kegiatan komunikasi hasil dari
pergerakan yang terjadi pada organ suara dalam tubuh manusia yang
meliputi lidah, bibir, tengorokan, pita suara untuk mengeluarkan bunyi.
Performansi bahasa merupakan penggunaan bahasa yang sebenarnya dalam situasi yang kongkrit (the actual use of language in concrete
situation). Performansi bahasa mencakup bahasa lisan dan tulisan serta
segala bentuk usaha yang berhubungan dengan keluarnya suara dari
dada hingga terbentukanya suara. Sehingga para ahli bahasa mengibaratkan performansi sebagai bahasa lisan atau perkataan yang merupakan hasil dari transformasi bahasa. Transformasi yang bermula dari
strukur dalam yang membawa makna, kemudian ditransformasikan
keluar dalam bentuk bunyi atau suara.
3. Struktur dalam dan Struktur Luar (Deep Structure And Surface
Structure)
Pandangan tentang struktur dalam dan luar tersebut lahir ketika
Noam Chomsky mendapati kepincangan dalam teori bahasa strukturalisme yang dikarenakan adanya ketidakmampuan teori strukturalisme untuk menunjukkan hubungan antara kata dan maknanya sebagaimana
teori tersebut hanya mengkaji struktur luar (Surface Structure) tanpa
adanya kajian terhadap struktur dalam (Deep Structur). Oleh karena itu
Noam Chomsky dalam teorinya menyatakan bahwa dalam bahasa terdapat tiga komponen penting yang harus ada dalam bahasa yaitu komponen grammar, komponen fonologi, dan komponen semantik .
Komponen fonologi dan semantik dalam bahasa merupakan
komponen interpretatif yang dinyatakan oleh komponen sintaksis
seperti bentuk bahasa dan hubungan antara sesama. Implikasi dari hal
tersebut adalah bahwa kalimat yang dihasilkan oleh sintaksis harus
mencerminkan dua struktur yaitu struktur (deep structure)dalam dan
struktur luar(surface structure). Pandangan seperti ini terlahir dari suatu hipotesis yang menyatakan bahwa semua bahasa dilihat dari struktur dalamnya adalah sama yaitu menunjukkan tingkat pemikirannya. Perbedaanya terletak pada struktur luarnya yaitu ujaran dan tulisan. Pengertian yang lebih luas adalah bahwa setiap individu menusia memiliki deep structure dalam dirinya kemudian ia mentransformasikannya ke dalam surface structurenya dalam bentuk tulisan dan ujaran. Sedangkan kemampuan mentransformasikan itu tidak lain adalah kompetensi dirinya.
4. Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence).
Jika melihat perbedaan antara kompetensi bahasa (competence)
dan performansi bahasa (performance) serta struktur dalam dan struktur
luar, maka dapat kita simpulkan bahwasannya kompetensi komunikatif
berkaitan erat dengan kemampuan anak dalam menguasai keempat
elemen tersebut. Kompetensi bahasa merupakan sekumpulan elemenelemen yang mampu mengirimkan pesan dan mengolahnya dan saling berhubungan dengan yang lain dalam batasan tertentu. Sebagaimana
dikemukakan oleh Savingon bahwasannya kompetensi komunikatif
adalah sebuah sandaran yang terbentuk karena adanaya keterikatan
berbagai unsur bahasa dan hal ini tidak berlaku pada anak yang
terasingkan dari sebuah komunitas bahas. Kompetensi bahasa mencakup beberapa point yaitu: grammatical competence yaitu kemampuan manusia yang memberikan pengetahuan tentang kaedah-kaedah bahasa, sociolinguistics competence yaitu kemampuan manusia yang menpermudah pemahaman dialek suatu masyarakat
yang terjalin akibat adanya interaksi, discourse competence yaitu kemampuan manusia dalam memecahkan masalah dan berinterksi dengan bahasa, strategic competence yaitu kemampuan manusia dalam memilih kalimat-kalimat yang sesuai untuk memulai pembicaraaan dan mengakhirinya.
Kompetensi bahasa menurut Noam Chomsky berkaitan dengan
unsur psikologi dan terapan (applied) yang mana unsur psikologi berhubungan dengan alat yang digunakan merumuskan dan menggambarkan bahasa diantaranya adalah akal sehingga Ia menjadikan tujuan utama kajian bahasa adalah untuk mengungkap rahasia akal.Sedangkan unsur terapan dalam bahasa adalah sosiolinguistik (sociolinguistics) yang merupakan bagian dari ilmu bahasa terapan (applied linguistics).
Setelah membaca teori transformatif-generatif, kita dapat mengetahui bahwasanya dalam penerjrmahn model Generatif ini harus memperhatikan aspek sintaksis, fonologi, dan simantik bahasa asal dan bahasa sasaran. Model penerjemaham ini lebih berorientasi pada makna dari pada kalimat yang membungkus makna tersebut.
Didalam jurnal lain model generatif adalah model yang dalam penerjemahannya melibatkan banyak keputusan dan satu keputusan mempengaruhi keputusan-keputusan yang lainya.
Contoh penerjemahan model generatif
تقدم الأسواق التقليدية و المراكز التجارية الحديثة " مول " أنواعا من التخفيضات خاصة خلال رمضان و عيد الفطر 
Misalnya, penerjemahan kata pertama dalam kalimat itu bisa dimulai dengan mengawali subyek
الأسواق التقليدية و المراكز التجارية الحديثة “ مول”
yaitu: Pasar tradisional dan pasar modern “mall” menyajikan berbagai macam potongan harga (discount) khususnya pada saat Ramdhan dan idil Fitri.
Tetapi juga dapat dimulai dari objeknya
)أنواعا من التخفيضات(
yiatu: Berbagai macam potongan
harga (discount) disajikan Pasar tradisional dan pasar modern “mall” khususnya pada saat Ramdhan dan idil Fitri.
B. Proses Penerjemahan
Proses penerjemahan terbagi atas tiga cara, yaitu
 1.Analisis teks bahasa sumber
2. Pengalihan pesan
3. Restrukturisasi.
Analisis teks bahasa sumber dilakukan dengan memahami makna kalimat, frase, klausa dan kata. Serta memahami maksud atau konteks kata dan kalimat tersebut. Selanjutnya pengalihan pesan, jika makna kata atau kalimat dapat dilakukan dengan teliti sedemikian rupa dengan bantuan kamus misalnya. atau maksudnya dapat dipahami dengan menganalisis konteks. Kemudian merekontruksikan kebahasa sasaran menggunakan struktur kalimat yang berbeda sesuai dengan struktur bahasa sasaran.

Makalah Penilaian Berbasis Kelas

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Dalam mengevaluasi terlebih dahulu diadakan penilaian, oleh karena penilaian merupakan salah satu bagian daripada kegiatan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar. Penilaian adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.    salah satu bentuk penilaian yang telah dilakukan oleh guru dan dosen adalah bentuk penilaian berbasis kelas.
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan ( standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. Maksudnya adalah hasil Penilaian Berbasis Kelas  dapat menggambarkan kompetensi, keterampilan dan kemajuan siswa selama dikelas.
Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa.

B. Tujuan, Fungsi dan Prinsip Penilaian Berbasis Kelas
Adapun tujuan penilaian  kelas yaitu;
1. Mengetahui tingkat  pencapaian kompetensi siswa,
2. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan belajar siswa,
3. Mendiagnosis kesulitan belajar  siswa.
4. Mengetahui hasil pembelajaran.
5. Mengetahui pencapaian kurikulum.
6. Memotivasi siswa untuk belajar.
7. Memotivasi guru  agar melakukan kegiatan   pengajaran  dengan lebih baik.
Adapun fungsi penilaian berbasis kelas secara umum adalah:
1. Mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar.
2. Memantau ketercapaian standar  ketuntasan belajar minimum yang telah ditetapkan dan telah dicapai oleh siswa.
3. Sebagai pertanggung jawab public (Public Accontabilitiy)  kepada stake holder pendidikan (sekolah, guru, orang tua, siswa dan masyarakat.
4. Sebagai alat untuk mengendalikan   dan  menjamin  mutu kualitas  pembelajaran  yang dilaksanakan di sekolah oleh guru  maupun siswa.
5. Sebagai umpan balik  khususnya guru  maupun siswa.
6. Menemukan kesulitan belajar siswa.

Adapun Prinsip-prinsip penilaian berbasis kelas diantaranya adalah:
a. Valid 
PBK harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis tes yang terpercaya atau shahih. Artinya, adanya kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
b. Mendidik 
PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar peserta didik.
c. Berorientasi pada kompetensi
PBK harus menilai pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi seperangakat pengetahuan, sikapa, keterampilan, dan nilai yang terefleksi dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
d. Adil dan Objektif
PBK harus mempertibangkan rasa keadilan dan objektifitas peserta didik, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang etnis, budaya, dan berbagai hal ynag memberikan konstribusi pada pelajaran.
e. Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan, sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
f. Berkesinambungan 
PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan peserta didik, sehingga kegiatan dan unjuk kerja peserta didik dapat dipantau melalui penilaian.
g. Menyeluruh 
PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar peserta didik yang dapat dipertanggung jawabkan kepada semua pihak.
h. Bermakna 
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, maka PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak- pihak yang berkepentingan

C. Strategi Penilaian Berbasisi Kelas
1. Menyusun rencana evaluasi hasil belajar 
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun terlebih dahulu perencanaanya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya oleh Sudijono mencakup enam jenis kegiatan, yakni
(a) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi
(b) Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi
(c) memilih dan menentukantekhnik yang akan dipergunakan didalam pelaksanaan evaluasi
(d) menyuun alat-alat pengukuran dan penilaiana hasil belajar peserta didik
(e) menentukan tolak ukur norma atau kriteria  yang akan  dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan  interpretasi terhadap data hasil evaluasi
(f) menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).

2. Menghimpun data 
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud data dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabiloa evaluasi hasil belajar itu tidak menggunakan tekhnik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan instrument-instrument tertentu berupa rating scale,check list, interview guide, atau questionare ( apabila evaluasi hasil belajar menggunakan teknik non tes).
3. Melakukan verifikasi data
Data yang telah berhasil dihimpun, harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat  memperjelaskan gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau kelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “ kurang baik” (yaitu data yang akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).
4. Mengolah dan menganalisis data 
Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Untuk keperluan itu, maka data hasil evalusi perlu disususn dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam mengelola dan menganlisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknis statistik dan atau tekhnik nonstatistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistik misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel,grafik, atau diagram, penghitungan perhitungan rata-rata, standar deviasi, pengukran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagian akan dapat menghasilkan iformasi-informasi yang lebih lengkap dan mata berharga.
5. Memberikan interperetasi dan menarik kesimpulan 
Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakekatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yamg telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi  itu pada hakekatnya dapat dikemukakan kesimpulankesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu.
6. Tindak lanjut hasil evaluasi
Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis, dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung didalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut. Harus senantiasa diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adaya tindak lanjut yang konkrit. Tanpa diikuti oleh tindak lanjut yang konkrit, maka pekerjaan hasil evaluasi itu hanya akan sampaik kepada pernyataan, yang menyatakan bahwa; “satu tahun, bahwa begini dan itu begitu”. Apabila hal seperti itu terjadi maka kegiatan evalusi itu sebemnarnya tidak banyak membawa manfaat bagi evaluator.



D. Bentuk-Bentuk dan Aspek Yang Dinilai dalam Penilaian Berbasis Kelas
Ada beberapa bentuk penilaian berbasis kelas, diantaranya:
a. Kuis
b. Pernyataannya lisan dikelas
c. Ulangan harian
d. Tugas individu
e. Tugas kelompok
f. Ulangan semester
g. Ulangan kenaikan kelas
h. Responsi atau ujian praktek
Adapun aspek-aspek yang dinilai adalah sebagai berikut:
a. Penilaian hasil kerja
Penilaian hasil kerja (product) merupakan penilaian kepada siswa dalam mengontrol proses dan manfaat dan memanfaatkan atau menggunakan bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktis, atau kualitas estetik dari suatu yang mereka produksi. Contohnya; kerja artistic (menggambar, melukis, kerajinan)
Hal-hal yang  akan dinilai dalam penelitian hasil kerja adalah Penilaian produk akan kemampuan siswa dalam :
1) Bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam mendesain
2) Memilih bahan-bahan yang tepat
3) Menggunakan alat, menunjukkan kreatif dan inovatif
4) Memilih bentuk dan gaya dalam karya seni
b. Penilaian tes tertulis (paper and pen)
Penilaian ini dilakukan secara tertulis dimana soal dan jawaban diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tertulis. Tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.
Sebelum membuat tes tertulis, beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penyusunannya benar-benar dapat mengambarkan atau mengukur penguasaan terhadap kompetensi. Diantaranya:
1) Harus dapat mengukur hasil belajar sesuai TIK  (tujuan intruksional khusus).
2) Butir-butir soal menjadi sampel dari populasi materi yang telah diberikan.
c. Penilaian sikap
Penilaian sikap adalah penilaian terhadap perilaku dan keyakinan siswa terhadap suatu objek, fenomena atau masalah. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara observasi perilaku, pertanyaan langsung, laporan pribadi, dan lain-lain.
d. Penilaian kinerja 
Penilaian kinerja merupakan proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka deskripsi verbal), analisis, informasi untuk membuat keputusan. Ciri-ciri penilaian kinerja : mengidentifikasi semua aspek yang penting, menulis semua kebutuhan yang ditunjukkan, mengusahakan kemampuan yang akan dinilai, dll. Contoh; model rating scale,model checklist, model rating scale gabungan.
e. Penilaian penugasan 
Yaitu penilaian yang medapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/umum secara konseptual mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan pemahaman pelajaran tertentu, yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu : perencanaan, pengumpulan data, pengelolaan dan penyajian data.


f. Penilaian portofolio
Secara etimologis berasal dari bahasa  inggris  yang artinya document atau kumpulan surat-surat. Porfolio merupakan  kumpulan hasil karya siswa sebagai hasil belajarnya. Portofolio, selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan, juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran. Ciri-cirinya :
1) Mengumpulkan data melalui karya siswa
2) Mengumpulkan dan menilai dilakukan terus menerus
3) Bisa memperlihatkan perkembangan siswa, dll

Makalah Ruang Lingkup Simantik

Ruang Lingkup Semantik
Semantik merupakan studi tentang makna, dalam semantik ada beberapa ruang lingkup diantaranya:
a) Pengertian semantik sendiri
b) Objek dari pembahasan semantik
c) Jenis semantik
d) Kedudukan semantik dalam Semiotik
e) Pengertian makna (karena yang diteliti dari semantik adalah makna)
f) Jenis-jenis makna
g) Bentuk perubaham dari makna
h) Tingkat pembahasan makna
i) Hubungan antar makna
j) Cara menganalisi makna.
Karena kajian semantik adalah mencoba menguraikan kategori semantik dari sebuah kata berdasarkan pemakainya. Hal ini terjadi karena beberapa faktor sebagai berikut:
a) Faktor kebahasaan (linguistic cause)
b) Faktor sosial (social cause)
c) Faktor sejarah (historical cause)
d) Faktor psikologi (psychological cause)
e) Faktor kebutuhan akan kata-kata baru.
Dilihat dari segi metode Ilmu semantik (Ilmu Al -Dilalah) dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Ilmu Semantik Historis (Ilmu Al-Dilalah Al-Tarikhi)
Ilmu ini mempelajari makna yang berubah atau perubahan makna dari masa ke masa
b) Ilmu Semantik Deksriptif (Ilmu Al-Dilalah Al-Washfi)
Ilmu ini mempelajari makna pada masa tertentu dalam sejarah suatu bahasa atau hubungan-hubungan makna (yang tetap) dari suatu bahasa dalam kurun waktu tertentu.
Dilihat dari maknanya, ruang lingkup semantik dibagi menjadi beberapa bagian.  semantik dibedakan berdasarkan tataran atau bagian bahasa itu sendiri. semantik yang objek penyelidikannya adalah leksikon dari bahasa itu sendiri disebut semantik leksikal.  Artinya, dalam bahasan ini leksem-leksem dalam suatu bahasa akan diselidiki maknanya. Leksem adalah  istilah yang digunakan dalam studi semantik untuk menyebutkan satuan bahasa bermakna. Dalam leksem terdapat morfologi dan sintaksis sebagai satuan gramatikal bebas  terkecil. Contohnya kata meja, makan dan lain-lain. Sedangkan gabungan leksem seperti meja hijau (pengadilan), berbadan dua (hamil) dan lain-lain disebut dengan leksikon.
Ruang lingkup studi semantik juga meliputi semua tataran bahasa seperti morfologi hingga siktaksis, kecuali fonetik dan fonemik yang meskipun menyinggung juga masalah makna, tetapi tidak memiliki makna.

Makalah PERKEMBANGAN DAN PENGEMBANGAN IPA

BAB II
PEMBAHASAN
1. Deskripsi Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut dengan ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode.
Tidak semua pengetahuan kemudian dapat disebut dengan ilmu, karena dalam mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan disebut menjadi ilmu atau dikatakan ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Objektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya atau didukung dengan metodik fakta empiris.
b. Metodik, artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
c. Sistematik, artinya pengetahuan itu disusun dalam suatu sistem dimana satu sama lain saling berkaitan dan saling menjelaskan, sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.
d. Berlaku umum, artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.
Segala kebenaran yang terdapat dalam ilmu alamiah tersebut, terletak pada metode ilmiah. Kelebihan dan kekurangan ilmu alamiah ditentukan oleh metode ilmiah. oleh karena itu, pemecah segala masalah yang tidak diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.
2. Langkah-langkah menyusun metode ilmiah
Sebagai langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat dirinci sebagai berikut.
a. Penginderaan
Penginderaan merupakan langkah utama bagi metode ilmiah dan segala sesuatu yang tidak dapat diindera, maka tidak dapat diselidiki Ilmu Alamiah, meskipun pengindraan itu tidak selalu langsung.
b. Masalah dan Problem
Setelah penginderaan, langkah yang kedua yang dilakukan adalah menemukan masalah. Langkah untuk menemukan masalah yaitu pastinya dengan membuat pertanyaan. Misalnya: apakah yang ditemukan melalui pengindraan itu? Mengapa begitu? Bagaimana hal itu terjadi? Dan seterusnya.
c. Hipotesis
Dari pertanyaan yang tepat akan melahirkan suatu jawaban dan jawaban itu bersifat sementara yang merupakan suatu dugaan. Dugaan tersebut yang disebut dengan Hipotesis. Dalam membuktikan dugaan itu benar atau tidak, dibutuhkan fakta atau data. Fakta dapat didapatkan melalui proses survei atau eksperimen. Bila data tidak mendukung hipotesis, harus disusun hipotesis baru. Hipotesis, kecuali didukung oleh data, agar mudah dibuktikan harus bersifat sederhana dan memiliki jangkauan yang jauh.
d. Eksperimen
Eksperimen atau percobaan merupakan langkah ilmiah keempat. Pada langkah ini, ilmu alamiah dan non ilmu alamiah dapat dipisahkan secara sempurna.
Pendapat atau jawaban sebuah masalah yang tidak didukung oleh adanya bukti merupakan ilusi dan tidak bijaksana. Dalam eksperimen ini dapat menunjukan bukti, sehingga jawaban yang bersifat dugaan akan menjadi jawaban yang benar atau alamiah.
e. Teori
Bukti eksperimen merupakan suatu langkah ilmiah untuk menuju langkah Teori. Apabila suatu hipotesis tersebut didukung dengan suatu bukti ataupun data yang meyakinkan, yang diperoleh dari berbagai eksperimen yang contohnya dilakukan di laboratorium, dimana eksperimen dilakukan oleh berbagai peneliti dan bukti-bukti menunjukan hal yang dapat dipercaya, walaupun dibuktikan dengan batasan tertentu, maka disusun suatu teori.
Teori berlaku diberbagai tempat dengan keterbatasan tertentu, yakni kondisi lainnya harus sama. Bila teori tersebut memiliki ramalan atau prediksi tinggi, kemungkinan berlakunya menjadi lebih luas.

3. Ciri-ciri ilmiah
a. Bersifat lugas.
Artinya, yaitu mengenai yang pokok saja pembicaraan tidak menyimpang, tidak berbelit-belit, dan tidak bersifat pribadi.
b. Mematuhi kaidah-kaidah gramatika.
Artinya, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa.
c. Efektivitas kalimat-kalimatnya terpenuhi
Maksudnya, pesan-pesan yang dikandung kalimat-kalimat itu dapat diterima pembaca persisi seperti yang diinginkan penulis.
d. Kosakatanya baku dan sesuai dengan kaidah pemilihan,dan istilah-istilah yang digunakan sesuia dengan bidang ilmu yang ditekuni.
e. Bebas dari makna kias dan figura bahasa.
Artinya, kata-kata atau kalimat-kalimat yang digunakan harus bermakna lugas.
f. Mematuhi persyaratan penalaran.
Maksudnya, secara sematik kalimat-kalimat bersifat lugas dan dapat diterima oleh akal sehat.
g. Menerapkan kaidah ejaan yang berlaku.

4. Keunggulan metode ilmiah
Keunggulan metode ilmiah terkandung dalam sifat objektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum yang merupakan ciri khas pengetahuan ilmiah yang akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang terpuji, yaitu sebagai berikut:
a. Mencntai kebenaran yang objektif, bersifat adil, dan itu semua akan menjurus ke arah hidup yang bahagia.
b. Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolute, hal ini dapat menjurus kearah mencari kebenaran ini terus menerus.
c. Dengan ilmu pengetahuan, orang lalu tidak percaya takhayul, astronomi, maupun untung-untungan karena sesuatu di alam semesta ini terjadi melalui proses yang teratur.
d. Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk tidak berpikir secara prasangka, tetapi berpikir secara terbuka atau objektif, suka menerima pendapat orang lain atau bersikap toleran.
e. Metode ilmiah membimbing untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.
f. Metode ilmiah juga membimbing kita selalu bersikap optimis, teliti, dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar. 


5. Kebenaran ilmiah
 Menurut Kaplan, kebenaran ilmiah itu beragam beriringan dengan adanya fenomena yang harus dipelajari dengan luas dan kompleks sehingga tidak memungkinkan adanya patokan yang mutlak mengenai metode ilmiah. Jadi belum ada kesatuan paham dari para ilmuan filusuf. Mereka cenderung memiliki pendapat yang berbeda dan memiliki dasar yang kuat dalam metodenya tersebut.

6. Perkembangan IPA
Perkembangan ilmu pengetahuan alam sampai saat ini dapat dibagi menjadi 4, yaitu:
1) Lambat, yaitu abad ke-15-16 (pseudo science, mitos, logika).
2) Sedang, yaitu abad ke-16-19 (awal IPA, heliosentris, penemuan alat bantu).
3) Cepat, yaitu abad ke-19-20 (revolusi industri, penemuan mesin modern seperti uap, kertas, mesin cetak, penemuan alat bantu yang lebih baik).
4) Sangat cepat, yaitu abad ke-20 sampai sekarang (IPA modern, alat-alat riset canggih, dan lain-lain). 

7. Sarana perkembangan IPA
Ada dua kriteria yang perlu di perhatikan dalam rangka perngembangan dan perkembangan model sarana penunjang pembelajaran IPA
Kriteria pembelajaran IPA untuk anak :
a) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
b) Memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungan
c) Proses pembelajaran yang dilakukan guru dapat membangkitkan minat belajar anak
                  Kriteria alat pembelajaran IPA Bagi Anak
                          a) Dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar dengan
                             baik
                          b) Dapat menanamkan konsep yang benar pada diri anak didik

MAKALAH ALAM PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

A. Hakikat Manusia, Rasa Ingin Tahu dan Akal Budi
1. Hakikat manusia
Setiap makhluk hidup tentu memiliki keunikan tersendiri. Begitupun dengan manusia. Manusia mempunyai sifat unik yang mampu menguasai dan menandingi makhluk hidup lain. Dengan akal budi dan kemauannya yang keras, manusia dipandang sebagai makhluk yang sempurna yang mampu mengembangkan pikirannya untuk menghasilkan hal-hal yang bermanfaat. Manusia mempunyai rohani yang sangat kuat, ditandai dengan adanya akal budi dan kemauan yang keras sehingga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Namun disamping itu, manusia juga memiliki kelemahan dari sisi fisiknya/tubuhnya jika dibandingkan dengan hewan-hewan tingkat tinggi seperti gajah, harimau, dan buaya. Walaupun manusia memiliki tubuh yang lemah dan tidak sekuat hewan-hewan bertaring, namun dengan akal budi dan kemauannya yang keras itulah manusia mampu menyetarakan bahkan mengungguli kemampuan dari makhluk hidup kuat lainnya. Jadi dapat disimpulkan, bahwa hakikat manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai keunikan yaitu memiliki akal budi dan kemauannya yang keras.
2. Kuriositas atau Rasa Ingin Tahu dan Akal Budi
Rasa ingin tahu dimiliki oleh hewan, tumbuhan, dan manusia. Pada hewan dan tumbuhan, rasa ingin tahu tersebut didorong oleh naluri (instinct). Titik pusat dari naluri tersebut yaitu mampu mempertahankan kelestarian dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Begitupun dengan manusia juga memiliki naluri. Namun disamping memiliki naluri, 
manusia juga memiliki akal budi sehingga rasa ingin tahunya tidak tetap sepanjang zaman. 
Rasa ingin tahu pada manusia tidak pernah dapat dipuaskan dan selalu berkembang. Manusia selalu bertanya-tanya dengan segala sesuatu yang terjadi, bahkan setelah mengetahui semua yang terjadi manusia terkadang belum merasakan kepuasan atas jawaban yang diperolehnya. Dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi, manusia mampu mengakumulasikan pengetahuan - pengetahuan yang diperolehnya untuk mencapai kebahagiaan dan juga kemudahan dalam hidupnya.
B. Landasan Pola Pikir
Manusia melakukan sesuatu karena didorong oleh pola pikirnya. Pola pikirlah yang menggerakkan, mendorong atau yang menjadi landasan mengapa seseorang melakukan sesuatu. Adi W. Gunawan pada Modul Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III: 2011, memaparkan bahwa “pola pikir atau mindset adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang pada akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya”.   Salah satu yang berperan penting dalam mengembangkan pola pikir adalah pendidikan. Perkembangan pendidikan akan menggiring ke arah perkembangan ilmu pendidikan dan teknologi. Perkembangan pola pikir manusia dilandasi oleh beberapa faktor yaitu rasa ingin tahu, mitos , dan juga penalaran.
C. Otak (Proses Penerimaan Informasi)
Salah satu bagian tubuh manusia yang membedakan manusia dengan ciptaan Allah SWT yang lain adalah otak yang berfungsi sebagai pusat kendali kehidupan manusia baik secara lahir maupun batin. Otak manusia terdiri dari 3 bagian. Masing-masing bagian mempunyai fungsi sendiri-sendiri namun tidak dapat dipisahkan dengan yang lainnya. Berikut ini adalah 3 bagian otak dan fungsinya:
1. Batang otak (Otak Primitif), yang berfungsi sebagai pengatur agar tubuh bergerak sebagaimana mestinya dan bereaksi dengan cara yang tidak membahayakan kelangsungan hidup. Bagian ini berhubungan dengan perilaku berdasarkan insting untuk mempertahankan hidup yang telah terbentuk sejak dan sebelum kelahiran.
2.  Amigdala, yang berfungsi untuk mengingat kembali emosi kuat yang berhubungan dengan ingatan kejadian. Bagian ini berhubungan dengan perilaku emosional manusia yang telah terbentuk sejak dan sebelum kelahiran seperti rasa takut, perhatian, sosialisasi dan lain-lain. Bagian ini dapat di ubah  atau dikendalikan untuk kemanfaatan yang lebih baik bagi kehidupan individu, misalnya rasa marah yang tidak terkendali yang menuai pertengkaran dan bahkan pertarungan atau pembunuhan. Namun rasa marah yang dikendalikan akan menumbuhkan kemampuan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
3. Neokortek, yang dikenal sebagai otak berfikir. Bagian ini berhubungan dengan perilaku pengembangan diri manusia yang belum terbentuk dan akan terbentuk sesuai dengan pengaruh yang didapatnya setelah lahir dan secara sendiri dikembangkan oleh dirinya sendiri ,seperti, kreativitas, imaginasi, pemecahan masalah, dan lainnya.
Otak menerima informasi dan membutuhkan stimulasi untuk menerima koneksi yakni stimulus emosional, afektif, verbal, visual dan pendengaran. Neuron dan sinapsis terbentuk apabila senantiasa diberikan stimulus dan akan permanen didalam otak sehingga apabila tidak diperkuat akan mengalami pruning atau kematian sel. Dengan demikian, proses ini dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas stimulus di lingkungannya. Lingkungan memberikan stimulus yang optimal untuk perkembangan sehingga kuantitas sel sel saraf akan meningkat dan tidak banyak yang mati pada saat mereka dewasa.
Otak manusia terdiri atas sekitar 100 milyar neuron. Setiap neuron bertugas menghantarkan informasi. Neuron-neuron yang mempunyai fungsi serupa, berkelompok membentuk kolom. Seluruh neuron tersebut saling terkait dalam suatu jaringan yang membentuk intelejensi, kreativitas, kesadaran dan memori. 
D. Perkembangan Pemikiran August Compte
August Compte melihat perkembangan ilmu pengetahuan alam (natural sciences) bahwa sejarah perkembangan alam pikir manusia terdiri dari 3 tahap, yaitu :
1. Tahap Teologi atau Tahap Metafisika
Dalam tahap ini manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan. Mitos ini diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Dalam tahap ini rasio atau penalaran belum terbentuk, yang muncul hanya daya khayal, intuisi, atau imajinasi. Dalam tahap ini, segala sesuatu didasarkan atas adanya dewa, roh, atau Tuhan.
Tahap ini adalah tahap paling awal dari perkembangan akal budi manusia. Manusia memahami segenap kejadian atau fenomena yang terjadi ada kaitannya dengan alam yang misteri. Alam semesta dipahami oleh mereka sebagai sesuatu yang hidup, berjiwa, berkemauan dan bertindak sendiri.
2. Tahap Filsafat
Dalam tahap ini manusia mulai melakukan perombakan pola pikir, semua gejala, kejadian, dan fenomena tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang supranatural dan rohani. Manusia pada tahap ini berusaha untuk mencari hakikat atau esensi dari segala sesuatu. Mereka tidak lagi mencari pengertian umum sederhana tanpa landasan argumentasi logis.
3. Tahap Positif atau Tahap Ilmu.
Dalam tahap ini lebih maju karena gejala dan kejadian tidak lagi dijelaskan dengan analisis berfikir, melainkan berdasarkan observasi, eksperimen yang ketat dan teliti.
E. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Proses perkembangan ilmu pengetahuan terbagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1. Mitos
Mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu. Cerita ini dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan melalui tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Manusia belum mampu memandang realita dengan inderanya. Lewat mitos, manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian alam sekitarnya, dapat menanggapi daya kekuatan alam.
Contoh:
a) Gunung api meletus dianggap sebagai bentuk kemarahan dewa yang sakti.
b) Gempa bumi diduga terjadi karena raksasa yang memikul bumi dibahunya tengah memindahkan bumi dari satu bahu ke bahu yang satunya.
c) Gerhana bulan disangka terjadi karena bulan dimakan raksasa.
Dalam menanggapi peristiwa menakjubkan tersebut manusia selalu menghubungkan dengan perbuatan dewa, hantu, setan, atau makhluk ghaib lainnya.
2. Penalaran
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Di dalam mitos manusia terikat, manusia menerima keadaan sebagai takdir yang harus diterima. Lama-kelamaan manusia tidak mau terikat maka manusia berusaha mencari penyelesaian dengan rasio. Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa alam, misal gunung api meletus yang menimbulkan banyak korban dan kerusakan, manusia tidak lagi mengadakan selamatan dengan tari-tarian dan nyanyian, tetapi akan mengamati fenomena tersebut, mempelajari mengapa gunung api tersebut meletus, kemudian berusaha mencari penyelesainnya berdasarkan hasil pengamatannya.
Manusia menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret. Gejala alam merupakan pengalaman konkret dan dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Dengan bantuan panca indera manusia dapat memperoleh pengetahuan. Namun semua itu belum bisa dikatakan ilmu pengetahuan yang disusun secara teratur dan dicari hubungan sebab akibatnya. Untuk maksud itu perlu dilakukan penalaran. Penalaran dilakukan dari hal yang sederhana menuju hal yang kompleks. Dalam hal ini fakta yang didapatkan dari hasil pengamatan tidak boleh dicampur adukan dengan pendapat atau dugaan orang.
Dari pengamatan secara kritis dan sistematis tentang gejala alam akan diperoleh pengetahuan tentang gejala alam tersebut. Akan terlihat adanya kaakteristik tertentu, adanya kesamaan, ulangan, keteraturan dalam pola-pola tertentu. Dengan demikian akan dapat digeneralisasikan dari berbagai kasus yang terjadi.
Namun, pengetahuan yag didapatkan dari himpunan pengetahuan panca indra memiliki kelemahan.
3. Pedekatan Ilmiah
  Suatu pengetahuan dapat disebut ilmu pengetahuan apabila digunakan dengan metode keilmuan atau pendekatan ilmiah. Pengetahuan ini disusun dan diperoleh melalui kegiatan penelitian. Penelitian ilmiah ini dilaksakan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris. Kesimpulan dari penelitian ini dapat menghasilkan teori yang bersifat objektif, universal, terbuka dan tidak mutlak.



  Kisi-Kisi Sosiologi Kelas 10 1.      Siswa mengetahui pengertian sosiologi dari para ahli 2.      Siswa mengetahui sifat-sifat sosiolo...