Wednesday, February 26, 2020

Makalah Administrasi Keuangan

PEMBAHASAN
A.    Pengertian
1.      Pengertian Administrasi
Administrasi secara etimologis berasal dari bahasa latin “administrare” yang berarti membantu atau melayani. Kata sifatnya “administrativus” dan kata bendanya “administration”.[1] Sedangkan administrasi secara simantik adalah keseluruhan proses yang mempergunakan dan mengikutsertakan semua sumber potensi yang tersedia dan yang sesuai, baik personal maupun material, dalam usaha untuk mencapai bersama suatu tujuan secara efektif dan efisien. Pengertian administrasi di maksud mengandung makna administrasi yang bersifat manajerial yaitu: suatu aktivitas atau proses pelaksanaan kegiatan secara bersama berupa kegiatan menggerakkan, memajukan atau menyediakan sarana/prasarana yang di perlukan bagi aktivitas personil atau anggota untuk mewujudkan suatu tujuan bersama yaitu tujuan organisasi/institusional/lembaga atau lebih di kenal visi dan misi.
2.      Pengertian administrasi keuangan
Administrasi keuangan adalah bagian dari organisasi pemerintah yang berkaitan dengan pengumpulan, kelestarian dan penyaluran dana publik, dengan koordinasi pendapatan dan belanja publik, dengan pengelolaan kredit operasi atas nama negara dan dengan umum kontrol usaha keuangan rumah tangga.
Dapat disimpulkan bahwa administrasi keuangan adalah sebuah analisis terhadap sumber-sumber pendapatan dan penggunaan biaya yang diperuntukkan sebagai pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.[2]


B.     Jenis-jenis biaya pendidikan
Biaya pendidikan merupakan masalah mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini di sebabkan oleh fakta bahwa penyelenggaraan pendidikan bersentuhan dengan masalah sarana, prasarana dan pembiayaan yang lain (insentif[3], gaji dan honorarium[4]). Menurut Supandi, biaya pendidikan di golongkan menjadi: biaya langsung dan tidak langsung, biaya pribadi dan biaya sosial.[5] Biaya langsung adalah biaya yang di keluarkan untuk membiayai kebutuhan yang berkaitan dengan hal-hal mendasar yang menjadikan suatu pendidikan dapat terlasana atau tidak, misalnya biaya untuk menggaji atau membayar guru, pembimbing, pegawai, pimpinan, pengadaan dan pemeliharaan perlengkapan material alat-alat kantor, pembelian tanah dan pembangunan gedung. Sementara biaya tidak langsung adalah biaya yang harus di lakukan oleh sekolah atau di bayarkan oleh orang tua siswa (tidak langsung), misalnya: pajak  listrik, air, bangunan dan fasilitas-fasilitas lain yang telah di tetapkan oleh pemerintah.
            Biaya pribadi adalah biaya pendidikan yang harus di keluarkan oleh setiap orang tua siswa atau wali yang berkaitan dengan kelancaran belajar. Misalnya pembelian buku, alat tulis, ongkos transportasi, serta biaya makan dan minum. Sedangkan biaya sosial adalah jenis biaya yang di keluarkan atau di butuhkan oleh pihak siswa yang ada kaitannya dengan kelancaran siswa dalam menempuh studi. Biaya di bayarkan secara tidak langsung melalui pihak sekolah dengan membayar pajak kepada pemerintah, kemudian pemerintah memberi konfensasi hibah kepada masyarakat melalui sekolah, misalnya berupa hibah sumbangan dan sejenisnya.
C.    Penganggaran
Penganggaran merupakan proses kegiatan penyusunan anggaran atau budget. Budget merupakan acara operasional yang di nyatakan secara kuantitatif dalam bentuk satuan uang yang di gunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan lembaga dalam kurun waktu tertentu. [6]
a.       Karakteristik anggaran
Anggaran memiliki dua sisi yaitu sisi penerimaan dan pengeluaran. Sisi penerimaan menggambarkan perolehan atau besarnya dana yang di terima oleh lembaga dari setiap sumber dana, misalnya dari pemerintah, masyarakat, orang tua peserta didik dan sumber-sumber lainnya. Sedangkan sisi pengeluaran menggambarkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk tiap komponen program. Istilah-istilah yang lazim untuk pengeluaran anggaran adalah dana rutin dan dana pembangun.
b.      Fungsi anggaran
Anggaran disamping sebagai alat untuk perencanaan dan pengendalian manajemen, juga merupakan alat bantu bagi manajemen dalam mengarahkan suatu organisasi dalam posisi yang kuat atau lemah.[7] Sementara beberapa fungsi anggaran dalam manajemen organisasi sektor publik menurut Deddy Nordiawan adalah sebagai berikut :
1.      Anggaran sebagai alat perencanaan
Dengan fungsi ini organisasi tahu apa yang harus dilakukan dan kearah mana kebijakan dibuat.
2.      Anggaran sebagai alat pengendalian
Dengan adanya anggaran organisasi sektor publik dapat menghindari adanya pengeluaran yang terlalu besar atau adanya penggunaan dana yang tidak semestinya.
3.      Anggaran sebagai alat kebijakan
Dengan adanya anggaran organisasi sektor publik dapat menentukan arah atas kebijakan tertentu.
4.      Anggaran sebagai alat politik
Dengan adanya anggaran dapat dilihat komitmen pengelola dalam melaksanakan program-program yang telah dijanjikan.
5.      Anggaran sebagai alat koordinasi dan komunikasi
Dengan dokumen, anggaran yang komprehensif sebuah bagian atau unit kerja atau departemen dapat mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang akan dilakukan oleh masing-masing bagian atau unit kerja lainnya.
6.      Anggaran sebagai alat penilaian kinerja
Angggaran adalah suatu ukuran yang bisa menjadi patokan apakah suatu bagian atau unit kerja telah memenuhi target baik berupa terlaksananya aktifitas amaupun terpenuhinya efisiensi biaya.
7.      Anggaran sebagai alat motivasi
Anggaran dapat digunakan sebagai alat motivasi dengan menjadikan nilai-nilai nominal yang tercantum sebagai target pencapaian. Dengan catatan anggaran akan menjadi alat motivasi yang baik jika memenuhi sifat menantang tetapi masih mungkin di capai. Maksudnya adalah suatu anggaran itu hendaknya jangan terlalu tinggi, sehingga tidak dapat dipenuhi juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah di capai.
D.    Kelengkapan Administrasi Keuangan
Kelengkapan administrasi keuangan suatu sekolah sangat banyak jenisnya dan ragamnya. Pada bagian ini hanya akan diberikan beberapa contoh saja yang dianggap mendasar, seperti:
1.      Kartu SPP
Kartu SPP adalah alat bukti pembayaran yang telah dilakukan oleh siswa atas sejumlah biaya yang menjadi kewajibannya.
Sisi dalam kartu                                                        Sisi Luar Kartu
Text Box: Bulan Tgl Bayar Jumlah  Paraf Petugas
Juli 2011   
Agustus   
September   
Oktober   
November   
Desember   
Januari 2012   
Pebruari   
Maret   
April   
Mei   
Juni   
Catatan: SPP dibayarkan paling lambat setiap tgl 10/bulan















SMP BINA BANGSA
Jl. Ahmad Yani No.40 Purwokerto Utara 53126
KARTU
SUMBANGAN PEMBINAAN PENDIDIKAN
Nama    : …………………………………………………..
NIM       :…………………………………………...........
Alamat  :..………………………………..…………………
 
 




2.      Kwitasi Pembayaran
Kwitansi pembayaran berfungsi sebagai bukti, bahwa siswa/orang tua siswa telah melakukan pembayaran atas suatu tanggungan tertentu.
Kwitansi No…………

Dari Nama : ………………………..
Kelas:………………………
Untuk: …………………
Rp.
Penerima,

……………..
Kwitansi No……………….

Telah dari : ………………… kelas : ……………… uang sejumlah : ……..
……………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………………
Untuk membayar : …………………………………………………………………
Yogyakarta,                20…..
Petugas Penerima.
Rp.

3.      Buku penerimaan
No.
Tanggal Pemasukan
Sumber Pemasukan
Sub Jumlah
Jumlah
Keterangan

1.
2 Maret 2011
a.  SPP :
1.  Kelas X (32 x Rp. 175.000).
2.  Kelas X (8 x Rp. 150.000).
3.  Kelas XI (37 x Rp. 170.000).
4.  Kelas XII (40 x Rp. 165.000).

5.600.000
1.200.000
6.290.000
6.600.000





19.690.000


keringanan
2.
7 April 2011
b.  Uang Pembinaan :
1.  Kelas X (32 x Rp. 25.000).
2.  Kelas XI (37 x Rp. 20.000).
3.  Kelas XII (40 x Rp. 15.000).

800.000
740.000
600.000





 1.940.000



Jumlah

21.630.000
















Buku ini mencatat seluruh pemasukan uang dari berbagai sumber yang diterima oleh sekolah, khususnya adalah uang SPP dan uang lain yang telah ditetapkan diluar uang proyek atau uang pembangunan

4.      Buku pengeluaran
Uang yang masuk atau diterima oleh pihak sekolah dari berbagai pos pemasukan harus dicatat sedemikian rupa, sehingga akan dapat diketahui seberapa besar dana yang telah didapat oleh sekolah untuk nantinya dialokasikan/didistribusikan untuk membiayai atau membayar sejumlah keperluan/program yang telah ditetapkan.
No.
Tanggal
Uraian Pengeluaran
Jumlah
Sub Jumlah
1.
4 Maret 2011
1.       Foto Copy
2.       Pajak listrik
3.       Bayar Air PDAM
4.       Perjalanan Dinas
5.       Gaji Guru
6.       Gaji Karyawan
7.100
52.900
15.000
150.000
13.750.000
7.250.000





21.225.000
2.
5 Maret 2011
1.       Rapat bulanan
2.       Bayar Koran
3.       Kembalian air minum
4.       Ongkos pemeriksaan kesehatan siswa (rujukan)
5.       Kegiatan OSIS
6.       Pembelian Solar

55.000
58.000
12.500
37.500

63.000
27.000






253.000
3.
30 Maret 2011
1.       Pembelian kertas HVS
2.       Perbaikan LCD
3.       Pencetakan kartu BK
4.       Beli spidol besar 2 dus
5.       Bantuan/santunan siswa
6.       Foto Copy
52.500
25.000
172.000
32.000
100.000
32.000









Jumlah Bulan Maret
413.500
21.891.500

5.      Buku KAS (Buku Laporan Keuangan Pemasukan dan Pengeluaran)
No.
Tanggal
Pemasukan
Jumlah
Nota
Tanggal
Penggunaan
Jumlah
Saldo
1.
2 Maret.
1. SPP
19.690.000
1
4 Maret 2011
1.       Foto Copy
2.       Pajak Listrik
3.       Bayar PDAM
4.       Perjalanan Dinas
5.       Gaji Guru
6.       Gaji KAryawan.
7.100
52.900
15.000

150.000

13.750.000
7.250.000




2.  Komite
750.000

2
5 Maret 2011
7.       Rapat bulanan
8.       Bayar Koran
9.       Pembelian air minum
10.   Ongkos pemeriksaan kesehatan siswa (rujukan)
11.   Kegiatan OSIS
12.   Pembelian solar
55.000

58.000
12.500

37.500




63.000

27.000




3.  Pembinaan
3.750.000
3
30 Maret 2011
13.   Pembelian kertas HVS
14.   Perbaikan LCD
15.   Pencetakan Kartu BK
16.   Beli Spidol besar 2 dus
17.   Bantuan/santunan siswa
18.   Foto Copy
52.500

25.000

172.000

32.000

100.000


32.000



Jumlah
24.190.000



21.891.500
2.298.500












E.    Proses pembuatan anggaran
Anggaran biaya pendidikan untuk setiap tahun ajaran mutlak direncanakan oleh setiap sekolah dalam bentuk Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. Pembuatan RAPBS ini dilaksanakan disetiap akhir tahun pelajaran dan atau di awal menjelang tahun ajaran baru akan dimulai. Dalam prosesnya, pembuatan RAPBS ini dimulai dengan:[8]
a.       Pembentukan tim atau Panitia pembuat RAPBS
b.      Tim atau sekolah meminta kepada setiap unit atau bagian sekolah untuk mengajukan rencana kegiatan beserta anggaran yang dibutuhkan untuk masa satu tahun ajaran yang akan datang,  misalnya bagian BK, perpustakaan, kantin sekolah, laboratorium.  Sedangkan bagian yang bersifat umum dibuat oleh bagian tertentu misalnya, kurikulum, sarana dan prasarana.
c.       Setelah semua bagian menyerahkan rencana anggaran dan kegiatan selanjutnya pihak sekolah membuat draft RAPBS
d.      Mensosialisasikan RAPBS bersama-sama dengan karyawan para guru dan komite
e.       Sekolah menyempurnakan RAPBS atas masukan dan usul dari peserta rapat
f.       Sekolah mengajukan kepada Dinas Pendidikan dan atau pihak Yayasan
g.      Dinas Pendidikan atau Yayasan mengadakan analisis dan pembahasan jika kemudian dirasa sudah baik pihak Dinas Pendidikan mengesahkannya menjadi APBS
h.      Sekolah mempedomani APBS sebagai dasar dalam pengajuan biaya penyelenggaraan kegiatan pendidikan
Belanja pendidikan adalah kegiatan pengadaan dan atau pembelian sejumlah kebutuhan penyelenggaraan pendidikan,  berupa material sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kelancaran pelaksanaan suatu kegiatan.  dalam aplikasinya belanja pendidikan ini secara umum mengacu pada rencana yang telah ditetapkan dalam RAPBS dalam segi nama kebutuhan jenis dan spesifikasinya.  namun perlu diketahui bahwa dalam masalah belanja pendidikan ini tidak bisa sepenuhnya mutlak mengikuti apa yang ada di dalam RAPBS,  Hal ini disebabkan Seiring berjalannya waktu Paskah disahkannya RAPBN menjadi APBN,  apa yang telah ditetapkan dalam APBN akan mengalami perubahan terutama dari segi nominal harga-harga kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.  dengan demikian ketika sekolah akan melakukan kegiatan belanja pendidikan selain mengacu pada rencana yang telah dibuat juga perlu diikuti peninjauan dan analisis kembali terhadap kondisi harga harga barang di pasar pada saat pengadaan atau belanja.
Sedangkan prosedur penyusunan anggaran adalah sebagi berikut :[9]
a.       Mengidentifikasikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode anggaran.
b.      Mengidentifikasikan sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa dan barang
c.       Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang sebab anggaran pada dasarnya merupakan pernyataan finansial
d.      Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan dipergunakan oleh instansi tertentu
e.       Menyusun usula anggaran untuk memperoleh persetujuan dan pihak yang berwenang
f.       Melakukan revisi usulan anggaran
g.      Persetujuan revisi usulan anggaran
h.      Pengesahan anggaran



[1] Hizbul Muflihin, Administrasi Manajemen Pendidikan, (Klaten: CV. Gema Nusa, 2017),  hlm. 21-22
[2] Mulyono, Konsep Pembiayaan Pendidikan, (Yogyakarta: AR-RUZZ Media, 2010), hlm. 78
[3] Insentif adalah tambahan penghasilan yang diberikan untuk menambah gairah kerja.
[4] Honorarium adalah pembayaran atas jasa yang diberikan pada suatu kegiatan tertentu.
[5] Hizbul Muflihin, Administrasi Manajemen Pendidikan, (Klaten: CV. Gema Nusa, 2017),  hlm. 353-354
[6] Tim dosen administrasi pendidikan universitas pendidikan indonesia, Manajemen Pendidikan, (Bandung:  ALFABETA, 2011), hlm. 258
[7] Nanang Fattah, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, (Bandung: Rosda; 2000), hlm. 49.
[8] Hizbul Muflihin, Administrasi Manajemen Pendidikan, (Klaten: CV. Gema Nusa, 2017),  hlm. 355-356
[9] Deddi Nordiawan, Akutansi Sektor Publik, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hlm. 260

Saturday, February 22, 2020

Makalah Tarjamah model Situasional

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tarjamah
Secara etimologis kata terjemah berasal dari bahasa Arab tarjama yutarjimu yang artinya menerangkan atau memindahkan perkataan dari suatu bahasa ke bahasa lainnya. Secara istilah, menurut Suhendra Yusuf (1994:8), terjemah berarti semua kegiatan manusia yang berkaitan dengan memindahkan informasi atau pesan yang disampaikan secara lisan atau tulisan dari bahasa asal atau informasi dalam bahasa asal ke dalam bahasa sasaran. 
Terjemah adalah kegiatan manusia dalam mengalihkan makna atau pesan, baik verbal maupun non verbal, dari suatu bentuk ke bentuk yang lainnya. Menurut Anwar Nurul Yamin “Yang di maksud penerjemahan di sini adalah pengalihbahasaan Al-Qur’an dari bahasa aslinya, yakni bahasa Arab ke dalam bahasa si penerjemah, misalnya ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia”.

B. Teori Terjemah Model Situasional
Situasi sangat menentukan makna satu ujaran. Pentingnya situasi dalam penerjemahan juga ditekankan oleh Catford. Catford mendefinisikan penerjemahan sebagai “the replacement of textual material in one language (the source language SL) by equivalent textual material in another language (the target language TL) yang dapat diartikan sebagai penggantian bahan kenaskahan dalam satu bahasa (bahasa sumber) dengan padanan bahan kenaskahan dalam suatu bahasa yang lain (bahasa sasaran).
Menurut resensi Willie Qoen, Nida dalam bukunya mengajarkan bahwa cara baru menerjemahkan haruslah berfokus pada respons penerima pesan, itu berarti bahwa terjemahan dapat dikatakan baik bila benar-benar dapat dipahami dan dinikmati oleh penerimanya.
Berkaitan dengan model dan teknik penerjemahan, dalam bukunya, Seni Menerjemahkan, Widyamartaya (1989), memaparkan beberapa model dan teknik penerjemahan, salah satunya yaitu Model situasional. Model situasional adalah model yang memahami makna ujaran berdasarkan situasi bahasa itu diucapkan, konteks situasi atau keadaan memberikan arti lain, pada makna ujaran yang sama.
Ada berbagai motif yang melatarbelakangi ujaran dalam situasi tertentu :
1. Orang mungkin ingin menunjukkan adanya sesuatu, tidak lebih.
2. Atau sekedar melukiskan sesuatu itu.
3. Atau melukiskan secara hidup agar mengesan pada pembaca.
4. Atau mengungkapkan perasaan sendiri mengenai hal itu.
5. Atau ingin mempengaruhi atau mendorong pembaca untuk melakukan sesuatu.
6. Atau menata bagaimana menghadapi sesuatu untuk menguasainya.
7. Atau, dibalik semua motif itu dan barangkali secara tak langsung berkaitan dengan motif itu, orang bertujuan mencapai suatu maksud.
8. Atau melampiaskan perasaan tentang sesuatu sehingga orang merasa tidak harus berbuat apa-apa mengenai hal itu.

Dalam bahasa Arab misalnya dikenal istilah » كثير الرماد « yang diterjemahkan secara harfiah “banyak asap”, yaitu sebuah kondisi yang mengesankan banyak memasak dikarenakan banyak tamu yang datang ke rumah seseorang. Namun jika melihat budaya bahasa Arab, ternyata maksudnya bukan itu, tetapi “mulia”, yakni orang yang banyak tamunya dipandang sebagai orang yang terhormat atau mulia. Dengan demikian makna sesungguhnya akan hilang pada saat penerjemah tidak berhati-hati dalam pengalihan makna bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.
Ketika memahami sebuah teks pemahaman kita tidak mungkin hanya berhenti pada makna referensial dan organisasional karena pesan sebuah teks lahir dari suatu situasi komunikasi yang spesifik. Makna juga kemudian muncul secara berbeda tergantung siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara dan dalam situasi seperti apa teks itu muncul. Kemudian lebih jauh makna sebuah teks maupun ujaran juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural serta status sosial masing-masing yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut.
Seorang penerjemah harus menyadari sebuah kata atau ungkapan oleh konteks situasi atau budaya. Makna sebuah kata juga ditentukan oleh hubungannya dengan unit-unit lain pada sebuah teks.
Makna kontekstual adalah makna suatu kata dihubungkan dengan situasi penggunaan bahasa (Nababan, 2003: 49). Menerjemahkan Konteks situasi di sini dimaksudkan sebagai konteks situasi eksternal (al-mauqif al-khariji) yang memungkinkan kata itu digunakan. Artinya, kata yang sama memiliki arti yang berbeda karena situasi yang berbeda pula. Perhatikan contoh berikut ini.
1- الله يرحمك
2- يرحمه الله
Verba yarham pada contoh pertama dan contoh kedua memiliki arti yang berbeda disebabkan oleh situasi luar yang berbeda. Kata الله يرحمك digunakan dalam siatuasi menjawab atau mendoakan orang lain yang membaca hamdalah pada saat bersin. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang bersin ini adalah kasih sayang di dunia (thalabu ar-rahmah fi ad-dunya).
Sementara itu, يرحمه الله digunakan sebagai doa bagi orang yang meninggal dunia. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang meninggal dunia ini adalah kasih sayang di akherat (thalabu ar-rahmah fi al-akhirah). Dengan demikian, kata yarham pada contoh pertama dan kedua digunakan dalam konteks situasi yang berbeda. Implikasinya, makna yang diacu oleh kata yarham tersebut juga berbeda.

Makalah MODEL INTRALINGUAL

PEMBAHASAN
1. Pengertian intrabahasa (intralingual)
Di dalam literature penerjemahan, ada beberapa ragam terjemahan yang pernah dikemukakan oleh para ahli. Ragam-ragam tersebut ada yang digolongkan menurut jenis sistem tanda yang terlibat, jenis naskah yang diterjemahkan, dan juga menurut proses penerjemahan serta penekanannya.
 Roman Jakobson (1959 : 324) membedakan terjemahan menjadi tiga jenis, yaitu penerjemahan intrabahasa, dan terjemahan intersemiotik.
Yang dimaksud terjemahan intrabahasa adalah pengubahan suatu teks menjadi teks lain berdasarkan interpretasi penerjemah. Dan kedua teks ini ditulis dalam bahasa yang sama.Terdapat unsur didalam bahasa yang mana unsur itu sendiri seperti kalimat dan kata yang dituturkan disebut unsur intralingual

2. Unsur intrabahasa (intralingual)
Ferdina de sausure mengatakan bahwa makna sama halnya dengan tanda linguistic. Menurutnya tanda linguistic terdiri dari dua unsur yaitu yang diartikan dan yang mengartikan. Yang diartikan sebenernya tidak lain daripada konsep atau sesuatu dari bunyi. Sedangkan yang mengartikan itu tidak lain dari bunyi yang terbentuk fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Jadi dengan kata lain setiap tanda linguistic terdiri dari unsur bunyi dan makna. Dalam makna kedua unsur ini adalah  unsur dalam bahasa(intralingual) yang merujuk pada seseuatu refren yang merupakan unsur luar bahasa.
Bagian unsur intralingual
1. Diksi atau pilihan kata
Diksi atau pilihan kata merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi. Banyak kecenderungan seseorang semakin mengesampingkan pentingnya penggunaan bahasa terutama dalam pemilihan kata atau diksi. Diksi atau pilihan kata dalam praktik berbahasa sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapata juga frasa atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar. Pemakaian kata/pilihan kata tidak dapat digunakan sembarangan. Pemakaian kata harus sesuai dengan konteks yang ada. Misalnya kata wafat dan meninggal, kedua kata ini memiliki kata yang sama yang mana sama sama ditujukan kepada orang yang sudah dipanggil Tuhan.
2. Frasa
Menurut kunjana frasa merupakan satuan gramatikal yang merupakan gabungan kata dan gabungan kata itu bersifat non prediktif. Didalam kelompok kata tidak mungkin dapat ditemukan fungsi predikat seperti halnya didalam kalimat. Secara umum frasa dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu frasa eksosentris dan frasa endosentris. Frasa eksosentrisns adalah frasa yang sebagian unsurnya, atau mungkin juga seluruhnya tidak memiliki prilaku sintaksis yang sama denag semua komponen. Contoh ‘dengan sabar’, dengaan baik, dari rumah, pada hari, ‘disamping ketengah tengah’. Frasa endosentris dibedakan menjadi 2 yakni, frasa berinduk tunggal dan frasa berinduk jamak. Frasa endosentris berinduk tunggal merupakan frasa yang satu induknya menjadi pertanda kategorinya dan modifikator yangbersifat non prediktif.
Didalam kelompok kata tidak mungkin dapat ditemukan fungsi predikat seperti halnya didalam kalimat. Secara umum frasa dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu frasa eksosentris dan frasa endosentris. Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian unsurnya, atau mungkin juga seluruhnya tidak memiliki prilaku sintaksis yang sama denag semua komponen. Contoh ‘dengan sabar’, dengaan baik, dari rumah, pada hari, ‘disamping ketengah tengah’. Frasa endosentris dibedakan menjadi 2 yakni, frasa berinduk tunggal dan frasa berinduk jamak. Frasa endosentris berinduk tunggal merupakan frasa yang satu induknya menjadi pertanda kategorinya dan modifikator yang menjadi penjelas.
3. Klausa
Klausa adalah satuan kebahasaan yang merupakan gabungan kelompok kata yang setidaknya terdiri dari klausa dan predikat. Dengan demikian klausa itu bersifat prediktif dan berptensi untuk dijadikan kalimat. Klausa juga dapat menempati posisi subjek,objek,pelengkap dan keterangan.
4. Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dapat di gunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan. Menurut kanjana kalimat dikatakan satuan bahasa terkecil karena sesungguhnya di atas kalimat masih terdapat satuan kebhasaan lain yang lebih besar . Kalimat memiliki beberapa unsur yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.


3. Penggunanan Unsur Intralingual
Penggunaan unsur intrakingual disebabakaan oleh beberapa alas an seperti keefektifan kalimat, kepaduan klausa dengan klausa lain yang membentuk kalimat, ketepatan frasa, dan ketepatan penggunaan diksi sesuai daya bahasa yang ingin dimunculkan.
Disamping itu, pemunculan daya bahasa sebagai penanda kesantunan juga menggunakan unsur ekstralingual. Unsur ekstralingual dapat berupa konteks tuntutan, gerak tubuh, dan tanda tanda visual. Unsur Ekstralingual berupa konteks dapat memnuculkan daya bahasa.

Makalah INSTRUMEN EVALUASI BENTUK TES

PEMBAHASAN
A. Pengertian tes
Istilah tes berasal dari bahasa prancis yaitu ‘’testum’’ , berarti piring yang di gunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain,seperti pasir,batu, tanah, dan sebagainya. Dilihat dari jumlah peserta didik,tes dapat dibagi menjadi dua yaitu tes kelompok dan tes perorangan . Dilihat dari cara penyusunannya tes juga dapat di bgi menjd dua jenis, yaitu tes buatan guru dan tes standar. Di lihat dari bentuk jawaban peserta didik terdapat di bagi tiga jenis, yaitu tes tertulis, tes lisan , dan tes tindakan. Berdasarkan aspek pengetahuan dan keterampilan, maka tes dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes kemampuan dan tes kecepatan.
Tes adalah suatu teknik atau cara dalam rangka melaksanakan kegiatan evalasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item atau serangkin tugas yag harus dikerjakan atau  di jawab oleh anak didik ,kemudan pekejaanan jawaban itu menghasilkan nilai tentang perilaku anak didik tersbut.
B. Jenis Tes
Dilihat dari cara penyusunannya, tes dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Tes Buatan Guru (teacher-made test)
Tes buatan guru adalah tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan mempergunakan tes tersebut. Tes ini biasanya digunakan untuk ulangan harian, formatif, dan ulangan umum (sumatif). Tes buatan guru ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang sudah disampaikan. Untuk itu, Anda harus membuat soal secara logis dan rasional mengenai pokok-pokok materi apa saja yang patut dan seharusnya ditanyakan sebagai bahan pengetahuan penting untuk diketahui dan dipahami oleh peserta didiknya.
2. Tes baku adalah tes yang dikaji berulang-ulang kepada sekelompok besar peserta didik, dan item-itemnya relevan serta mempunyai daya pembeda yang tinggi. Di samping itu, tes baku telah diklasifikasikan sesuai dengan tingkat usia dan kelasnya. Tes baku biasanya telah dianalisis secara statistik dan diuji secara empiris oleh para ahli (pakar), karena itu dapat dinyatakan sahih (valid) untuk digunakan secara umum. Tes baku bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam tiga aspek, yaitu kedudukan belajar, kemajuan belajar, dan diagnostik.
Ada beberapa perbedaan antara tes baku dengan tes buatan guru yaitu :

Tes Baku Tes Buatan Guru
- Berdasarkan isi dan tujuan-tujuan yang bersifat umum.
- Mencakup pengetahuan dan kecakapan yang luas.
- Dikembangkan oleh tenaga yang berkompeten dan profesional.
- Item-item sudah diujicobakan, dianalisis, dan direvisi.
- Memiliki derajat kesahihan dan keandalan yang tinggi.
- Memiliki ukuran-ukuran bermacam-macam kelompok yang secara luas mewakili performance seluruh daerah. - Berdasarkan isi dan tujuan-tujuan yang bersifat khusus.
- Mencakup pengetahuan dan kecakapan yang khusus.
- Dikembangkan oleh seorang guru tanpa bantuan dari luar.
- Item-item jarang diujicobakan sebelum menjadi bagian tes tersebut.
- Memiliki derajat kesahihan dan keandalan yang rendah.
- Biasanya terbatas pada kelas atau satu sekolah sebagai suatu kelompok pemakainya.

Jika di lihat dari bentuk jawaban peserta didik terdapat tiga jenis tes, yaitu tes tertulis, tes lisan , dan tes tindakan.
a. Tes Tertulis
Adalah tes yang bersifat formal dan non formal. Tes yang bersifat formal meiputi jumlah testi yang cukup besar yang diselenggarakan oleh suatu panitia resmi yang diangkat oleh pemerintah. Tes formal mempunyai tujuan yang lebih luas dan didasarkan atas standar tertentu yang berlaku umum. Sedangkan tes non formal berlaku untk tujuan tertentu dan lingkungan terbatas yan diselenggarakan oleh pihakpelaksana dalam situasi setengah resmi tanpa melalui institusi resmi.
Contoh dari tes tertulis adalah:
- Tes esai. Tes esai dapat digunakan mengukur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh tes objektif. Sering disebut juga dengan bentuk uraian karena menuntut anak untuk menguraikan jawabannya dengan kata-kata sendiri dan cara tersendiri.
- Tes objektif. Tes objektif sangat cocok untuk mengevaluasi kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu tinggi seperti mengingat kembali, kemampuan mengenal kembali, pengertian dan kemampuan mengaplikasikan prinsip-prinsip.
b. Tes Lisan
Adalah suatu bentuk tes yang menuntut respon dari anak dalam bentuk bahasa lisan. Anak akan mengucapkan kata-katanya sendiri sesuai dengan pertanyaan ataupun perintah yang diberikan. Teks lisan dapat berbentuk sebagai berikut:
1.) Seorang penguji menilai seorang siswa
2.) Seorang penguji menilai sekelompok siswa
3.) Sekelompok penguji menilai seorang siswa
4.) Sekelompok penguji menilai sekelompok siswa
c. Tes Perbuatan atau tindakan
Adalah bentuk tes yang menuntut jawaban siswa dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan. Siswa bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan atau ditanyakan. Misalnya, coba praktekkan bagaimana mengendarai sepeda dengan baik dan benar.

Berdasarkan aspek pengetahuan dan keterampilan, maka tes dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes kemampuan dan tes kecepatan.
1. Tes Kemampuan (power test)
Prinsip tes kemampuan adalah tidak adanya batasan waktu di dalam pengerjaan tes. Jika waktu tes tidak dibatasi, maka hasil tes dapat mengungkapkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Sebaliknya, jika waktu pelaksanaan tes dibatasi, maka ada kemungkinan kemampuan peserta didik tidak dapat diungkapkan secara utuh. Artinya, skor yang diperoleh bukan menggambarkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Namun demikian, bukan berarti peserta didik yang paling lambat harus ditunggu sampai selesai. Tes kemampuan menghendaki agar sebagian peserta didik dapat menyelesaikan tes dalam waktu yang disediakan. Implikasinya adalah guru harus menghitung waktu pelaksanaan tes yang logis, rasional, dan proporsional ketika menyusun kisi-kisi tes.
2. Tes Kecepatan (speed test)
Aspek yang diukur dalam tes kecepatan adalah kecepatan peserta didik dalam mengerjakan sesuatu pada waktu atau periode tertentu. Pekerjaan tersebut biasanya relatif mudah, karena aspek yang diukur benar-benar kecepatan bekerja atau kecepatan berpikir peserta didik, bukan kemampuan lainnya. Misalnya, guru ingin mengetes kecepatan berlari, kecepatan membaca, kecepatan mengendarai kendaraan, dan sebagainya dalam waktu yang telah ditentukan.
C. Langkah-langkah pengembangan tes
1. Pengembangan spesifikasi tes
Spesifikasi tes adalah suatu ukuran yang menunjukkan keseluruhan kualitas tes dan ciri-ciri yang harus di,iliki oleh tes yang akan dikembangkan. Hal yang perlu diperhatikan:
a. Menentukan tujuan, tujuan pembelajaran yang baik hendaklah berorientasi kepada peserta didik, bersifat menguraikan hasil belajar, harus jelas dan dapat dimengerti, mengandung kata kerja yang jelas (kata kerja operasioanal), serta dapat diamati dan di ukur.
b. Menyusun kisi-kisi soal’
Penyusunan kisi-kisi soa; bertujuan untuk merumuskan stepat mungkin ruang lingkup, tekanan dan bagian-bagian tes sehingga perumusan tersebit dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusunan tes.
c. Memilih tipe soal, dalam memilih tipe soal perlu diperhatikan kesesuiaian antara tipe soal dengan materi, tujuan evalusasi, pengellolaan hasil, penyelenggaraan tes, serta keteersediaan dana dan kepraktisan.
d. Merencanakan tingkat kesukarana soal, untuk soal objektif dapat diketahui melalui uji coba ataua adapat juga diperkirakan berdasarkan berat ringannya beban penyelesaiian soaltersebut.
e. Merencamakan banyak soal.
f. Merencanakana jadwal penerbitan soal
2. Prnilaian soal.
3. Penelaahan soal, yaitu menguji validitas yang bertujauan untuk menermati soal apakah buitir-butir soal yang disususn sudah tepat untuk mengukur tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan, dirinjau dari segi issi/materi, kriteria, dan psikologi.
4. Pengujian butir-butir soal secara empiris, kegiatan ini snagat penting jika soal yang dibuat akan di bakuakan.
5. Penganalisasian hasil uji coba
6. Pengadministrasian soal.

Makalah Relevansi KI & KD dengan buku ajar Bahasa arab pendekatan saintifik untuk kelas 4 madrasah ibtidaiyyah

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Relevansi KI & KD dengan buku ajar Bahasa arab pendekatan saintifik untuk kelas 4 madrasah ibtidaiyyah
  Menurut KBBI Relevansi memliki arti keterkaitan, dalam hal ini yaitu keterkaitan antara KI dan KD dalam mencapai tujuan pendidikan. Kompetensiinti (KI) adalah timgkat kemampuan untuk mencapai Stnadar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki oleh perserta didik pada setiap tingkat kelas atau program. Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran yang relevan setiap mata pelajaran harus sesuai dengan kompetensi inti yang telah dirumuskan. Untuk mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi dasar yang dikelompokan menjadi empat bagian, yaitu kompetensi sikap spritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan.
Buku ajar merupakan buku yang dipakai oleh siswa atau bisa disebut juga dengan buku siswa. Buku siswa adalah buku yang digunakan sebagai bahan ajar yang berisi ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku siswa ini memuat materi pelajaran atau konsep - konsep dasar yang dibuat berdasarkan pendekatan tertentuk sehingga buku siswa sesuai digunakan dalam proses pembelajaran.
Menurut Suyatna (2013:1) pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang mengispirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik ilmiah. Penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangakan pengetahuan dan keterammpilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi dan berkarya. Pembelajaran yang menerapkan metode saintifik mengandung aktivitas siswa berupa mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.
Jadi dalam melaksanakan pembelajran bahasa arab, buku ajar yang digunakan oleh siswa harus sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Serta didalamnya mengandung materi - materi yang mendukung metode saintifik sehingga menciptakan aktivitas mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.

2. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam mengetahui relevansi KD & KI   dengan Bahan ajar ( Buku Bahasa arab ) Kurikulum 2013
A. Aspek Isi
Hal yang perlu diperhatikan pada aspek isi adalah
1. Materi buku ajar mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta   terhindar dari unsur ketidakpatutan
2. Memiliki keruntutan alur
3. Memuat daftar pendukung yang lengkap
4. Mendorong aktivitas pembelajaran peserta didik, teknik penyajian, pendukung sajian dan aktfitas pembelajaran.
B. Aspek Bahasa
Kriteria penilaian pada aspek bahasa adalah :
1. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan berfikir peserta didik
2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami
3. Kesesuaian denga kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar
4. Memiliki keruntutan dan kesatuan gagasan
C. Aspek Kegrafikan (desain dan tata letak buku)
Pada aspek ini ada 5 kriteria penialaian :
1. Memiliki ukuran yang pas
2. Memiliki tampilan menarik
3. Huruf yang digunakan mudah dibaca
4. Sesuai dengan isi buku
5. Keteraturan isi buku
D. Aspek Tadqiq (Aspek transliterasi dan keakuratan pengutipan ayat - ayat Al    Qur’an dan hadis serta terjemaannya)
Aspek tadqid ini memiliki 4 kriteria penilaian :
1. Memenuhi ketepata penulisan atau pengutiapan ayat dan terjemahannya   sesuai Al - Qur’an standar kementrian agama.
2. Memenuhi ketepatan penulisan dan pengutipan hadis serta  terjemahannya sesuai kitab hadis standar                                                               
3. Memenuhi standar penulisan transliterasi sesuai SKB Menteri Agama   dan Mendikbud 1987
4. Serta memenuhi ketepatan pengutipan Al-Qur’an dan hadis sesuai   dengan kebutuhan pembelajaran.
C. KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR(KD) BAHASA ARAB KELAS 4 IBTIDAIYYAH
KELAS 4 SEMESTER GANJIL
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. Menerima dan menjalankan ajaran
agama yang dianutnya
Allah Swt atas terciptanya bahasa
yang beragam

1.1. Meresapi makna anugerah Allah Swt
berupa bahasa Arab
1.2. Mengakui dan mensyukuri anugerah

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru dan tetangganya 2.1. Memiliki kepedulian dan rasa ingin
tahu terhadap keberadaan wujud
benda melalui media bahasa Arab
dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, tetangga dan guru
2.2. Memiliki perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, tetangga dan guru
3. Memahami pengetahuan faktual
dengan cara mengamati [mendengar,
melihat, membaca] dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah dan di sekolah
3.1. Mengidentifikasi bunyi huruf, kata,
frasa, dan kalimat sederhana terkait
topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
baik secara lisan maupun tertulis
3.2. Menemukan makna dari ujaran kata,
frasa, dan kalimat sederhana terkait
topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
3.3. Memahami bentuk kata, frasa, dan
kalimat sederhana terkait topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
3.4. Memahami kata, frase dan kalimat
sederhana secara lisan dan tertulis
terkait topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam
bahasa yang jelas, sistematis dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan anak sehat, dan
dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak
mulia
4.1. Melafalkan bunyi huruf, kata, frasa,
dan kalimat Bahasa Arab terkait
topik:
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
4.2. Menyampaikan makna dari ujaran
kata, frasa, dan kalimat kalimat
sederhana terkait topik:
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
4.3. Menggunakan kata, frasa, dan kalimat
sederhana terkait topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
4.4. Mengungkapkan kata, frase dan
kalimat sederhana secara lisan dan
tertulis terkait topik :
التعريف  لنفس؛ ادوات ا¬درسية؛ أ#اب ا¬هنة
Tarkib اسم الإشراة+العلم و الاسم المفرد؛ ضمائر(أنا- أنت-أنت-هو-هي)+ العلم والاسم المفرد؛الاستفهام: من-ما-هل

KELAS 4 SEMESTER GENAP
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. Menerima dan menjalankan ajaran
agama yang dianutnya

1.1. Meresapi makna anugerah Allah Swt
berupa bahasa Arab
1.2. Mengakui dan mensyukuri anugerah
Allah Swt atas terciptanya bahasa
yang beragam

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru dan tetangganya
2.1. Memiliki kepedulian dan rasa ingin
tahu terhadap keberadaan wujud
benda melalui media bahasa Arab
dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, tetangga dan guru
2.2. Memiliki perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan keluarga,
teman, tetangga dan guru
3. Memahami pengetahuan faktual
dengan cara mengamati [mendengar,
melihat, membaca] dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah dan di sekolah
3.1. Mengidentifikasi bunyi huruf, kata,
frasa, dan kalimat sederhana terkait
topik :العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت baik secara lisan maupun tertulis
3.2. Menemukan makna dari ujaran kata,
frasa, dan kalimat sederhana terkait
topik : العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
3.3. Memahami bentuk kata, frasa, dan
kalimat sederhana terkait topik : العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
3.4. Memahami kata, frase dan kalimat
sederhana secara lisan dan tertulis
terkait topik : العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam
bahasa yang jelas, sistematis dan logis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan anak sehat, dan
dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak
mulia 4.1. Melafalkan bunyi huruf, kata, frasa,
dan kalimat Bahasa Arab terkait
topik: العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
4.2. Menyampaikan makna dari ujaran
kata, frasa, dan kalimat kalimat
sederhana terkait topik: العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
4.3. Menggunakan kata, frasa, dan kalimat
sederhana terkait topik : العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
4.4. Mengungkapkan kata, frase dan
kalimat sederhana secara lisan dan
tertulis terkait topik : العنوان؛أفراد الأسرة؛ الأسرة في البيت
Tarkib الأرقام 1-10 والضمائر المتصلة المفردة ؛ الاستفهام : أين؟ والجار: في

D. RELEVANSI KI DAN KD DENGAN BUKU AJAR MADRASAH IBTIDAIYYAH KELAS IV
1. Relevansi  KI-1 dan Kdnya dengan Buku Ajar
Penyajian materi dalam buku ajar siswa bahasa Arab telah relevan dengan KI-1 dan KD nya. Seperti penyajian khiwar tentang Atta’rifu Binnafsi mengawalinya dengan ungkapan assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Dengan mengawali setiap khiwar dengan salam menjadi kerelevenan antara KI-1 dengan KDnya.
2. Relevansi KI-2 dan Kdnya dengan Buku Ajar
Dalam penyajian materi mengankat tema yang bersangkutan dengan kehidupan sosial. Contoh materi Atta’rifu Binnafsi, di dalam materi ini bukan sekedar memperkenalakan diri tetapi mengajarkan juga bagai mana berinteraksi dengan teman serta didukung dengan ilustrasi anak yang saling menyapa , anak yang saling berjabatangan. Hal ini lebih memberikan kesan daan gambaran terhadap siswa tentang bagaimana kita berinteraksi deengan orang lain. Di luar materi disain dari buku ajar pun menggunakan ikon-ikon yang bernuansa sosial seperti kata “ayo berlatih!!” disamping tuliasan tersebut disisipi gambar “seorang anak mengajak temannya” ikon ini mengajarkan pada siswa untuk memiliki rasa peduli dengan temannya.
3. Relevansi KI-3 dan KDnya dengan Buku Ajar
Materi yang disajikan dalam buku ajar telah relevan dengan materi yang ada pada KD, di dalam penyajian materinya juga juga telah terkonsep bagaimana agara siswa itu mendengar, melihat dan membaca. Dengan menuliskan khiwar  kemudian menyajiakan gambar-gambar yang menarik dan sesuai materi, menyajikan kosakata untuk dihafal, menyajikan soal-soal ringan ini telah memenuhi apa yang harus didapatkan oleh sisiwa sesuai KI-3 dan KDnya.
4. Relevansi KI-4 dan KDnya dengan Buku Ajar
Tugas-tugas yang terdapat pada buku ajar ini yang menjadi relevan dengan KI-4 dan KD-nya. Karena tugas-tugas tersebut lebih mengarah pada praktik. Baik dengan permainan atau praktik langsung. Seperti mempraktikan khiwar  dan permainan untuk menghafal kosakata.








E. REFLEKSI
Buku siswa bahasa arab Kurikulum 2013 yang dibuat oleh pemerintah, telah sesuai dengan KI (Kompetensi Inti) dan KD ( Kempetensi Dasar). Dimana kompetensi inti termuat 4 sikap yaitu sikap spiritual ditampilkan pada setiap awal pembahasan hiwar mengandung kalimat yang mengandung religius. Yang kedua sikap sosial terlihat pada materi pengenalan diri, ini mengajarkan keterampilan sosial pada siswa. Yang ketiga ialah sikap pegetahuan, karena buku tersebut secara jelas memuat materi - materi bahasa arab. Yang keempat yaitu sikap keterampilan terletak pada tugas - tugas yang diberikan berupa mempraktikan hiwar, dan permainan untuk menghafal kosakata.
F. SIMPULAN
Setelah melalui penilaian pada berbagai aspek terhadap Buku Guru dan Buku Siswa Bahasa Arab MI Kelas 4, dapat disimpulan bahwa: antara KD, KI dengan buku ajar memiliki Relevansi dengan materinya.


  Kisi-Kisi Sosiologi Kelas 10 1.      Siswa mengetahui pengertian sosiologi dari para ahli 2.      Siswa mengetahui sifat-sifat sosiolo...