Saturday, March 7, 2020

Makalah Pembelajaran Tarkib


PEMBAHASAN
A.    Definisi dan konsep tarkib
Dikatakan bahwa al-Quran mengandung makna-makna agung yang misterius penuh dengan multi-ta’wil dan muli-tafsir yang berbeda di balik struktur gramatikal beserta kaidah-kaidahnya. Al-Qur’an mengandung pengetahuan di masa lampau, sekarang dan yang akan datang, al-Qur’an menjelaskan masalah yang khusus, umum, internal, eksternal, lahir, batin, jauh, dekat, yang di dalamnya makna literasi yang harus dibedakan antara wajib dan haram ada pula aspek negasi, susunan balik dan huruf-huruf yang dibuang.
Pengkajian terhadap al-Qur’an sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari aspek-aspek gramatikalnya. Cara pandang gramatikal merupakan upaya-upaya untuk memahami dengan baik mikro-struktur al-Qur’an dari aspek-aspeknya, baik secara gramatikal, stilistika, maupun simantiknya. Artinya, mekanisme pelahiran makna tafsir tergantung dari bagaimana aspek-aspek tersebut dipahami dan dipakai untuk membedah makna yang dimiliki teks. Mustahil kita menemukan makna al-Qur’an jika mengabaikan ilmu gramatikal yang ada.
Tata bahasa dapat didefinisikan sebagai sarana untuk dapat menggunakan bahasa dengan benar dalam berkomunikasi,sesuai susunan gramatika bahasa itu. Sedangkan definisi tarkib adalah adalah aturan aturan yang mengatur penggunaan bahasa Arab yang digunakan sebagai media untuk memahami kalimat.
Bahasa memiliki dua sub-sistem, yaitu sub-sistem morfologi dan sub-sistem sintaksis. Sub-sistem morfologi mencakup kata, bagian-bagian, dan proses pembentukannya. Sub-sistem sintaksis mencakup kelas kata dan satuan yang lebih besar, yaitu frasa, klausa, kalimat dan hubungan-hubungan di antara satuan-satuan sintaksis tersebut.
B.     Problem pembelajaran tarkib
Problem-problem yang dihadapi saat berlangsungnya pembelajaran tarkib adalah:
1.      Guru menitik beratkan pada kaidah tarkib (kaidah nahwu/ shorf) untuk membaca dan meahami isi bacaan. Proses yang lama dari pembelajaran tarkib membuat guru mengabaikan pembelajaran lain yang tidak kalah pentingnya.
2.      Siswa sering dituntut hafalan syair-syair atau matan tentang ilmu nahwu/ shorf akan tetapi mereka tidak paham dari makna dan penjelasan syair yang dihafalkan tersebut, sehingga tidak menutup kemungkinan pembelajaran yang berlangsung hanya buang-buang waktu saja.
3.      Pembelajaran tarkib diajarkan tidak utuh dan persial, terkesan terpisah-pisah serta mengalami penyempitan dan membatasi diri dalam wilayah garapannya, sebatas menyajikan contoh-contoh tanpa dikaji secara kritis.
4.      Pembelajaran tarkib sering lebih berorientasi untuk menjelaskan keadaan yang tidak memasuki wilayah substansi, menjelaskan keadaan rofa’, nashab, mubtada’, fail, maf’ul bih, naibul fail denagn mengabaikan implikasi makna yang menyertainya.
5.      Pola hubunga siswa dan guru di dalam pembelajaran tarkib terlihat kaku seperti hubungan tuan dan majikan, guru hanya menyajikan contoh kemudian peserta didik di tuntut dan diberi tugas untuk membuat contoh serupa.  Guru jarang mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam pembelajarannya, karena tidak pernah diukur.
6.      Buku ajar tarkib yang didapat terkadang materinya tidak sesuai dengan kemampuan siswa.
7.      Pembelajaran tarkib tidak disandingkan lagi dengan disiplin ilmu lain.
C.     Fungsi pembelajaran tarkib
Beberapa fungsi dari pembelajaran tarkib adalah :
1.      Untuk memperbaiki uslub-uslub dari kesalahan-kesalahan secara nahwiyah.
2.      Untuk membantu siswa dalam mencetuskan apa yang diinginkan oleh uslub-uslub yang  mempunyai perbedaan yang sangat tipis.
3.      Pengembangan materi kebahasaan agar mudah dipahami.
4.      Membangun bi’ah lughowiyah yang benar.
5.      Menjaga hubungan anatra struktur kalimat dengan keindahan maknanya.
6.      Meminimalisir keambiguan dan kelemahan makna dalam memahami sebuah ‘ibarat arabiyah.
7.      Membekali siswa dengan kemampuan kebahasaan khususnya kemampuan tarkib untuk mengetahui kesalahan struktur kalimat.
8.      Untuk penyusunan kalimat yang tepat dalam pembuatan kalimat sempurna.
D.    Model pembelajaran tarkib
Menurut Hasan Syahatah ada tiga model pembelajaran tarkib yaitu metode qiyqsy (deduktif), metode istiqraiy, dan metode al-mu’dilah.

1.      Model qiyasy
Thariqah qiyqsy adalah thariqah yang diadopsi dari thariqah terdahulu yang meliputi tiga langakah pengaplikasiannya yaitu guru mempermudah pembelajaran qawaid dengan menyebutkan qaidah-qaidah atau ta’rif dari unsur yang umum ke yang khusus  dengan mendatangkan sebagian contoh-contoh yang kemudian dengan contoh itu siswa disuruh berlatih, untuk mengetahui sejauh mana pemahan siswa terhadap apa yang sudah dijelaskan mengenai qawaid tersebut. Namun stressing dari metode ini adalah mendatangkan hal-hal (qaidah) yang umum lalu kemudian dibawa ke hal-hal yang juz’iyat dengan memberi contoh langsung dari qawaid yang dimaksudkan.
Adapun langkah aplikatif bagi seorang guru jika ingin menerapkan metode qiyasy sebagi berikut
a.       Guru masuk kelas  dan memulai pembelajaran dengan tema tertentu.
b.      Guru melanjutkan dengan menjelaskan kaidah-kaidah nahwu.
c.       Pelajaran dilanjutkan dengan siswa memahami serta menghafal tentang kaidah-kaidah nahwu.
d.      Guru memberi contoh atau teks yang berkaitan dengan kaidah.
e.       Guru membarikan kesimpulan pelajaran.
f.       Setelah dianggap cukup, sisiwa dimimnta mengerjakan soal-soal latihan.
Setiap metode pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Adapun kelebihan dari metode ini adalah
-          Tujuannya lebih spesifik
-          Aplikasinya mudah dan cepat
-          Memudahkan siswa dalam pemahaman dengan cepat
-          Menjaga lisan dari kesalahan dengan contoh-contoh yang pernah diajarkan.
-          Tidak menekankan adanya hafalan
Kekurangan metode ini adalah:
-          Pemahaman siswa cepat luntur karena tidak dihafalkan
-          Adanya ketergantungan kepada orang lain
-          Lemahnya dari sisi keaktifan berfikir dan mengemukakan pendapat
-          Kesulitan dalam qawaid yang bersifat juz’iyat

No comments:

Post a Comment

  Kisi-Kisi Sosiologi Kelas 10 1.      Siswa mengetahui pengertian sosiologi dari para ahli 2.      Siswa mengetahui sifat-sifat sosiolo...