PEMBAHASAN
A. Definisi dan konsep tarkib
Dikatakan
bahwa al-Quran mengandung makna-makna agung yang misterius penuh dengan multi-ta’wil dan muli-tafsir yang
berbeda di balik struktur gramatikal beserta kaidah-kaidahnya. Al-Qur’an
mengandung pengetahuan di masa lampau, sekarang dan yang akan datang, al-Qur’an
menjelaskan masalah yang khusus, umum, internal, eksternal, lahir, batin, jauh,
dekat, yang di dalamnya makna literasi yang harus dibedakan antara wajib dan
haram ada pula aspek negasi,
susunan balik dan huruf-huruf yang dibuang.
Pengkajian
terhadap al-Qur’an sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari aspek-aspek
gramatikalnya. Cara pandang gramatikal merupakan upaya-upaya untuk memahami
dengan baik mikro-struktur al-Qur’an dari aspek-aspeknya, baik secara
gramatikal, stilistika, maupun simantiknya. Artinya, mekanisme pelahiran makna
tafsir tergantung dari bagaimana aspek-aspek tersebut dipahami dan dipakai
untuk membedah makna yang dimiliki teks. Mustahil kita menemukan makna
al-Qur’an jika mengabaikan ilmu gramatikal yang ada.
Tata
bahasa dapat didefinisikan sebagai sarana untuk dapat menggunakan bahasa dengan
benar dalam berkomunikasi,sesuai susunan gramatika bahasa itu. Sedangkan
definisi tarkib
adalah adalah aturan aturan yang mengatur penggunaan bahasa Arab yang digunakan
sebagai media untuk memahami kalimat.
Bahasa
memiliki dua sub-sistem, yaitu sub-sistem morfologi dan sub-sistem sintaksis.
Sub-sistem morfologi mencakup kata, bagian-bagian, dan proses pembentukannya.
Sub-sistem sintaksis mencakup kelas kata dan satuan yang lebih besar, yaitu
frasa, klausa, kalimat dan hubungan-hubungan di antara satuan-satuan sintaksis
tersebut.
B. Problem pembelajaran tarkib
Problem-problem
yang dihadapi saat berlangsungnya pembelajaran tarkib adalah:
1. Guru menitik beratkan pada kaidah tarkib
(kaidah nahwu/
shorf) untuk membaca dan meahami isi bacaan.
Proses yang lama dari pembelajaran tarkib
membuat guru mengabaikan pembelajaran lain yang tidak kalah pentingnya.
2. Siswa sering dituntut hafalan syair-syair
atau matan tentang ilmu nahwu/
shorf
akan tetapi mereka tidak paham dari makna dan penjelasan syair
yang dihafalkan tersebut, sehingga tidak menutup kemungkinan pembelajaran yang
berlangsung hanya buang-buang waktu saja.
3. Pembelajaran tarkib diajarkan tidak
utuh dan persial, terkesan terpisah-pisah serta mengalami penyempitan dan
membatasi diri dalam wilayah garapannya, sebatas menyajikan contoh-contoh tanpa
dikaji secara kritis.
4. Pembelajaran tarkib sering lebih
berorientasi untuk menjelaskan keadaan yang tidak memasuki wilayah substansi,
menjelaskan keadaan rofa’,
nashab,
mubtada’,
fail,
maf’ul
bih,
naibul
fail
denagn mengabaikan implikasi makna yang menyertainya.
5. Pola hubunga siswa dan guru di dalam
pembelajaran tarkib
terlihat kaku seperti hubungan tuan dan majikan, guru hanya menyajikan contoh
kemudian peserta didik di tuntut dan diberi tugas untuk membuat contoh
serupa. Guru jarang mengetahui kekuatan
dan kelemahan siswa dalam pembelajarannya, karena tidak pernah diukur.
6. Buku ajar tarkib yang didapat
terkadang materinya tidak sesuai dengan kemampuan siswa.
7. Pembelajaran tarkib tidak
disandingkan lagi dengan disiplin ilmu lain.
C. Fungsi pembelajaran tarkib
Beberapa
fungsi dari pembelajaran tarkib adalah :
1. Untuk memperbaiki uslub-uslub dari
kesalahan-kesalahan secara nahwiyah.
2. Untuk membantu siswa dalam mencetuskan
apa yang diinginkan oleh uslub-uslub yang
mempunyai perbedaan yang sangat tipis.
3. Pengembangan materi kebahasaan agar
mudah dipahami.
4. Membangun bi’ah lughowiyah yang benar.
5. Menjaga hubungan anatra struktur kalimat
dengan keindahan maknanya.
6. Meminimalisir keambiguan dan kelemahan
makna dalam memahami sebuah ‘ibarat arabiyah.
7. Membekali siswa dengan kemampuan
kebahasaan khususnya kemampuan tarkib untuk mengetahui kesalahan struktur
kalimat.
8. Untuk penyusunan kalimat yang tepat
dalam pembuatan kalimat sempurna.
D. Model pembelajaran tarkib
Menurut
Hasan Syahatah ada tiga model pembelajaran tarkib yaitu metode qiyqsy
(deduktif), metode istiqraiy, dan metode al-mu’dilah.
1. Model qiyasy
Thariqah qiyqsy adalah thariqah yang
diadopsi dari thariqah terdahulu yang meliputi tiga langakah pengaplikasiannya
yaitu guru mempermudah pembelajaran qawaid dengan menyebutkan qaidah-qaidah
atau ta’rif dari unsur yang umum ke yang khusus
dengan mendatangkan sebagian contoh-contoh yang kemudian dengan contoh
itu siswa disuruh berlatih, untuk mengetahui sejauh mana pemahan siswa terhadap
apa yang sudah dijelaskan mengenai qawaid tersebut. Namun stressing dari metode
ini adalah mendatangkan hal-hal (qaidah) yang umum lalu kemudian dibawa ke
hal-hal yang juz’iyat dengan memberi contoh langsung dari qawaid yang
dimaksudkan.
Adapun langkah aplikatif bagi seorang
guru jika ingin menerapkan metode qiyasy sebagi berikut
a. Guru masuk kelas dan memulai pembelajaran dengan tema
tertentu.
b. Guru melanjutkan dengan menjelaskan
kaidah-kaidah nahwu.
c. Pelajaran dilanjutkan dengan siswa
memahami serta menghafal tentang kaidah-kaidah nahwu.
d. Guru memberi contoh atau teks yang
berkaitan dengan kaidah.
e. Guru membarikan kesimpulan pelajaran.
f. Setelah dianggap cukup, sisiwa dimimnta
mengerjakan soal-soal latihan.
Setiap
metode pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Adapun kelebihan dari metode ini
adalah
-
Tujuannya
lebih spesifik
-
Aplikasinya
mudah dan cepat
-
Memudahkan
siswa dalam pemahaman dengan cepat
-
Menjaga
lisan dari kesalahan dengan contoh-contoh yang pernah diajarkan.
-
Tidak
menekankan adanya hafalan
Kekurangan
metode ini adalah:
-
Pemahaman
siswa cepat luntur karena tidak dihafalkan
-
Adanya
ketergantungan kepada orang lain
-
Lemahnya
dari sisi keaktifan berfikir dan mengemukakan pendapat
-
Kesulitan
dalam qawaid yang bersifat juz’iyat
No comments:
Post a Comment