A.
PEMBAHASAN
1.
Periode Pranatal
a.
Awal kehidupan
Ada beberapa pendapat berkaitan dengan kapan dimulainya kehidupan manusia,
dapat dilihat dari segi biologis, psikologis dan agama. Secara lebih jelas
diuraikan berikut ini.
1)
Secara biologis
Kehidupan manusia dimulai sejak pembuahan (fertilization/conception),
yaitu bersatunya spermatozoa dengan ovum (sel telur). Sel telur yang sudah
dibuahi akan membelah diri dalam tempo 24 jam. Pembelahan berulang-ulang akan
membentuk bola sel yang disebut zygote yang terus membelah diri selama
berjalan didalam saluran.
Kehidupan dimulai sebagai sebagai suatu sel
yang tunggal yang beratnya kira-kiraseperduapuluh juta ons dan menyimpan kode
genetik. Gen adalah
bahan fisik yang diwariskan orang tua kepada keturunannya, dan merupakan
pembawa (carrier) cirri bawaan.
2)
Secara psikologis
Pendapat sekarang menyatakan bahwa permulaan perkembangan psikologis
dimulai sejak bayi yang dalam kandungan bereaksi terhadap rangsang dari luar yang
telah dimulai sangat awal, yaitu pada bulan-bulan pertama (bukti: bunyi bel
ditempelkan pada perut ibu, maka detik nadi janin bertambah cepat). Menurut
aliran hommonculus (Monks dkk., 2001) pada abad pertengahan, kehidupan
manusia dimulai sejak konsepsi tetapi dalam bentuk yang sangat kecil. Perubahan
dari anak kecil menjadi dewasa hanya bersifat kuantitatif. Anak-anak adalah
orang dewasa dalam bentuk kecil.
3)
Pendapat beberapa Agama/Aliran
Ada berbagai pendapat untuk menjawab
pertanyan tentang kapan kehidupan manusia
dimulai. Berbagai aliran/agama mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Ada yang
menyatakan bahwa kehidupan dimulai sejak konsepsi yaitu saat pertemuan sel
telur dengan spermatozoa. Ajaran lain menyebutkan bahwa kehidupan manusia baru
dimulai setelah adanya kesadaran atau roh, yaitu sejak embrio berusia 40 hari (
sebelumnya tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya).[1]
b.
Ciri-ciri periode pranatal
Periode
ini merupakan masa kehidupan individu dimulai dari masa konsepsi (pembuahan)
hingga kelahiran, sekitar 9 bulan dalam kandungan. Periode ini merupakan saat
pertumbuhan yang sangat luar biasa, dari satu sel tunggal (yang beratnya
kira-kira 1/20 juta ons) menjadi organism yang sempurna dengan kemampuan otak
dan tingkah lakunya.[2]
Adapun
ciri-ciri kehidupan pranatal yaitu:
1)
Pada saat ini sifat-sifat bauran, yang berfungsi sebagai dasar bagi
perkembangan selanjutnya, diturunkkan sekali utuk selamanya. Sementara
itukondisi-kondisi yang baik atau tidak baik, baik sebelum atau sesudah
kelahiran sampai tingkat tertentu, dapat dan mungkin mempengaruhi sifat-sifat
fisik dan psikologis yang membentuk sifat-sifat bawaan ini, perubahan-perubahan
yang terjadi bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.
2)
Kondisi-kondisi yang baik dalam tubuh ibu dapat menunjang perkembangan
sifat bawaan sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat perkembangannya
bahkan sampai mengganggu pola perkembangan yang akan datang. Ada saatnya dalam
rentang kehidupansifat bawaan sangat dipengaruhi kondisi-kondisi lingkungan
seperti halnya selama periode prenatal.
3)
Jenis kelamin individu yang baru diciptakan sudah dipastikan pada
saat pembuahan dan kondidi-kondisi dalam tubuh ibu tidak akan mmempengaruhinya,
sama halnya dengan sifat bawaan. Kecuali kalau dilakukan pembedaan dalam
operasi perubahan kelamin, jenis kelamin individu yang sudah ditetapkan pada
saat pembuahan tidak akan berubah. Operasi semacam itu sangat jarang dilakukan
dan hanya sebagian kecil saja berhasil.
4)
Perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi
selama periode prenatal dibandingkan pada periode-periode lain dalam seluruh
kehidupan individu. Selama Sembilan bulan sebelum kelahiran, individu tumbuh
dari sel kecil yang tampak dari mikroskop menjadi bayi yang panjangnya sekitar
dua puluh inci dan beratnya rata-rata 7 pon.
5) Periode
pranatal merupakan masa yang mengandung banyak bahaya, baik fisik maupun
psikologis. Meskipun tidak
dapat diklaim bahwa periode ini merupakan periode yang paling berbahaya dalam
seluruh rentang kehidupan. Banyak yang percaya bahwa masa anak-anak lebih
berbahaya tetapi jelas bahwa periode ini merupakan masa dimana bahaya-bahaya
lingkungan atau bahaya-bahaya psikologis dapat sangat mempengaruhi pola
perkembangan selanjutnya atau bahkan dapat mengakhiri suatu perkembangan.
6) Periode pranatal merupakan saat dimana orang-orang
yang berkepentingan membentuk sikap-sikap pada diri individu yang baru
diciptakan. Sikap-sikap ini akan sangat mempengaruhi cara bagaimana
individu-individu ini diperlakukan, terutama selama bertahun-tahun pertama pembentukan
kepribadiannya.[3]
c. Urutan kelahiran
Ada pendapat yang menyatakan bahwa urutan kelahiran dapat memengaruhi pola
perlakuan lingkungan terhadap dirinya, hubungan dengan anggota lain, dan apa
peran spesifik anak, yang selanjutnya akan memengaruhi sikap dan pola perilaku
serta menentukan jenis penyesuaian pribadi dan sosial yang harus dilakukan
individu sepanjang rentang kehidupannya.
Beberapa
cirri
umum berkaitan dengan posisi urutan kelahiran sebagai berikut (Hurlock, 1980):
1) Anak pertama,
berperilaku matang, memiliki sifat-sifat kepemimpinan, berprestasi tinggi atau
sangat tinggi, cenderung mengikuti kehendak dan tekanan kelompok, mudah
dipengaruhi kehendak orang tua, kecenderungan berperilaku sebagai “bos”, tidak
menyukai fungsi sebagai teladan bagi adik-adiknya, kurang agresif dan kurang
berani karena terlalu dilindungi orangtua, cenderuung merasa tidak bahagia
karena perhatian orang tua yang berkurang karena kelahiran adik-adiknya.
2) Anak tengah, mandiri, berpetualang, suka
berteman sehingga memiliki penyesuaian sosial yang baik, suka melanggar
peraturan, menjadi benci atau berusaha melebihi perilaku kakaknya yang lebih
diunggulkan, tidak berprestasi tinggi, sifat-sifat kepemimpinan lemah, kurang
menunjukan tanggung jawab, cenderung mengalami gangguan perilaku karena merasa
diabaikan orangtua.
3) Anak bungsu, memiliki rasa aman, cenderung
keras dan banyak menuntut karena cenderung dimanja lingkungan, tergantung,
kurang memiliki tanggung jawab, kurang berprestasi, sifat kepemimpinan lemah,
memiliki penyesuaian sosial yang baik, dan cenderung merasa bahagia karena bisa
diperhatikan dan dimanja sejak kecil.[4]
2.
Periode Bayi
a.
Pengertian masa bayi
Masa
bayi dianggap sebagai masa dasar, karena merupakan dasar periode kehidupan yang
sesungguhnya karena pada saat inibanyak pola perilaku, sikap,
dan pola ekpresi emosi terbentuk. Masa bayi berlangsung dua tahun pertama
setelah periode bayi baru lahir. Masa bayi disebut juga:
1)
Masa dasar yang sesungguhnya.
2)
aMasa dimana perubahan dan perubahan berjalan pesat.
3)
Masa berkurangnya ketergantungan.
4)
Masa meningkatnya individualitas.
5)
Masa permulaan berkembangnya penggolongan peran seks.
6)
Masa yang menarik.
7)
Masa permulaan kreativitas.
8)
Masa berbahaya.[5]
b.
Ciri-ciri periode bayi
Periode
bayi merupakan masa perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau
24 bulan. Masa ini ditandai dengan cirri-ciri sebagai berikut:
1)
Masa dasar pembentukan pola perilaku, sikap, dan ekspresi emosi.
2)
Masa pertumbuhan dan perubahan berjalan cepat, baik fisik maupun
psikologis.
3)
Masa kurangnya ketergantungan.
4)
Masa meningkatnya individualitas, yaitu saat bayi mengembangkan
hal-hal yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
5)
Masa permulaan sosialisasi.
6)
Masa permulaan berkembangnya penggolongan peran seks, seperti
terkait dengan pakaian yang dipakainya.
7)
Masa yang menarik, baik bentuk fisik maupun perilakunya.
8)
Masa permulaan kreativitas.
9)
Masa berbahaya, baik fisik (seperti kecelakaan) atau psikologis
(karena perlakuan yang buruk).[6]
c.
Aspek-aspek yang berkembang pada periode bayi
1)
Fisik
Pada masa bayi,
perkembangan fisik secara jelas dapat diamati, pada enam bulan pertumbuhannya
terus bertambah dengan pesat. Tahun pertama peningkatan lebih kepada berat dan
tinggi. Selama tahun kedua terjadi penurunan. Selain itu, yang berkembang ialah
proporsi, tulang, otot dan lemak, bangun tubuh, gigi, susunan saraf, dan organ
perasa.
2)
Psikologis
Secara
psikologis, pada masa bayi terjadi pembentukan pola-pola fundamentalis dan
kebiasaan menggali wajah orang-orang yang berarti bagi dirinya. Mulai merasakan
sentuhan ‘touching’ oleh orang-orang tertentu. Menurut Piaget, anak
hingga umur 2 tahun belum tampak adanya mediasi dalam arti ‘aktivitas piker
yang intern’. Semua tingkah laku anak harus dipikir sebagai hal yang diterima
secara sensori dan suatu sensori yang motorik saja. Oleh karena itu, Piaget
membedakan dua tahap perkembangan intelegensi pada manusia yaitu sensori motor
(sejak lahir sampai dua tahun) dan tahap konseptual (usia dua tahun sampai
dewasa).
3)
Motorik
Perkembangan
masa bayi pada aspek motorik ini dapat diamati dan terlihat reaksi-reaksi
spontan yang berulang dilakukan dan tidak di koordinasi. Namun lama-kelamaan
terjadi secara efektif. Hal ini terjadi pada merangkak, berjalan, dan memainkan
benda-benda. Perkembangan motorik terlihat adanya arah.
4)
Perkembangann bicara
sebelum mampu
berbicara, bayi lebih dahulu dapat mengerti apa yang dikatakan tanpa dapat
bereaksi dengan kata hanya ddengan ekspresi dan gerakan. Oleh karena itu, mimic
dan ekspresi bayi juga dapat dimengerti setelah usia tiga bulan. Menurut Terman
dan Mertil, rata-rata bayi dapat bereaksi terhadap perintah-perintah pada usia
kurang lebih dua tahun. Rata-rata bayi belajar menyampaikan kebutuhan-kebutuhan
dan keinginan pada usia tahun-tahun pertama yang disebut dengan komunikasi
prabicara. Bentuk-bentuk prabicara ini antara lain: menangis, berceloteh,
isyarat, dan ungkapan-ungkapan emosi.
5)
Perkembangan emosi
Pada bayi
terdapat pola emosi tertentu yang bersifat umum seperti kemarahan (menjerit,
meronta, menendang, mengibaskan tangan, memukul), ketakutan (takut terhadap
ruang gelap, tempat tinggi, dan binatang), rasa ingin tahu tentang mainan baru,
menjulurkan lidah, membuka mulut, memegang, melempar, membolak-balik),
kegembiraan ( tersenyum, tertawa, menggerakkan lengan serta kakinya), afeksi
(memeluk mainan kesayangannya, mencium barang-barang kesayangannya).
6)
Perkembangan kognitif
Perkembangan
konsep merupakan hasil asosiasi dari arti dengan benda dan orang-orang. Piaget
menamakan tahap perkembangan ini tahap “sensomotorik” dalam perkembangan
konsep. Pada masa akhir perkembangan ini bayi mulai menyusun kata-kata menjadi
kalimat sederhana yang dimulai dengan “siapa” “ apa” dan “dimana”.
7)
Perkembangan moral
Bayi belum
memiliki nilai dan suara hati. Lambat laun bayi mempelajari kode moral dari
orang tuannya dan orang-orang yang dekat dengannya. Bayi menilai benar atau
salah suatu perbuatan berdasarkan kesakitan atau kesenangan yang dirasakannya.[7]
3.
Periode Anak-anak
a.
Pengertiad periode anak-anak
Masa
anak dimulai setelah masa bayi yang penuh ketergantungan, yaitu dari usia
sekitar dua tahun sampai dengan 12 tahun. Masa ank dibagi menjadi dua periode
yaitu:
1)
Masa anak awal, berlangsung dari usia 2-6 tahun.
2)
Masa anak akhir, berlangsung dari usia 6-12 tahun.[8]
b.
Ciri-ciri perkembangan anak-anak
Umumnya
orangtua menganggap masa ini sebagai usia bermasalah atau usia sulit karena
pada masa sering terjadi masalah perilaku sebagai akibat karena anak sedang
dalam proses perkembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan, yang
pada umumnya masih kurang berhasil juga anak masih sering bersikap bandel,
keras kepala, tidak menurut, m elawan, dan marah tanpa alasan. Sering juga
dianggap sebagai usia bermain karena anak senang menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk bermain.
Para pendidik menyebut masa ini sebagai
usia prasekolah karena merupakan saat anak mengikuti taman indria atau taman
kanak-kanak dan masa persiapan untuk memulai pendidikan formal di kelas satu
sekolah dasar.
Psikolog sering menyebut sebagai usia
prakelompok karena anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai
persiapan untuk penyesuaian diri saat masuk sekolah dasar. Disebut juga sebagai
usia menjelaja dan usia bertanya karena anak-anak ingin mengetahui keadaan
lingkungannya, dan dalam upaya menjelajahi lingkungannya ini mereka banyak
bertanya. Pada masa ini, anak-anak juga senang meniru pembicaraan dan tindakan
orang lain sehingga disebut usia meniru.[9]
c.
Perkembangan pada periode anak-anak
1)
Perkembangan fisik
-
Tinggi dan berat: pertambahan tinggi badan setiap tahunnya
rata-rata 3 inci. Pada usia enam tahun tinggi anak rata-rata 46,6 inci.
Pertambahan berat badan setiap tahunnya rata-rata tiga sampai lima pon. Pada
usia enam tahun berat anak harus kurang lebih tujuh kali berat pada waktu
lahir.
-
Perbandingan tubuh: perbandingan tubuh sangat berubah dan
penampilan bayi tidak tampak lagi. Wajah tetap keciltetapi dagu tampak lebih
jelas dan leher lebih memanjang. Gumpalan pada bagian-bagian tubuh
berangsur-angsurberkurang dan tubuh cenderungberbentuk kerucut, dengan perut yang
rata (tidak buncit), dada yang lebih bidang dan rata, bahu lebih luas dan lebih
persegi. Lengan dan kaki lebih panjangdan lebih lurus, tangan dan kaki tumbuh
lebih besar.[10]
-
Perkembangan otak: pada saat bayi mencapai usia dua tahun, ukuran
otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa, dan pada usia lima tahun, ukuran
otaknya mencapai sekitar 90% otak orang dewasa.
2)
Perkembangan kognitif
Perkembangan
kognitif adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan
karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik, maka dunia
kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Menurut
Piaget, perkembangan kognitif pada anak dinamakan tahap pra-operasional (preoprational
stage) yang berlangsung dari usia dua hingga tujuh tahun. Pada tahap ini
konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentris mulai kuat dan
kemudian mulai melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis.
Dalam istilah pra-operasional menunjukan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan
pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah “operasional” menunjukan pada
aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa pengalaman
yang dialaminya.[11]
3)
Perkembangan moral
Piaget dan Kohlberg mengemukakan tahap-tahap perkembangan moral.
Menurut Piaget, antara usia 5 tahun dan 12 tahun, konsep aanak mengenai
keadilan sudah tumbuh. Pengertian yang kaku tentang benar dan salah yang
dipelajari dari orang tua menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan
keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Sedangkan Kohlberg menamakan
tingkat kedua dari perkembangan moral pada usia sekolah sebagai tingkat
moralitas konvensionl. Dalam tingkat ini yang disebut juga sebagai moralitas
anak baik, anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk
mempertahankan hubungan-hubungan yang baik.[12]
B.
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B.
1991. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.
Soetjiningsih,
Christina Hari. 2012. Perkembangan Anak: Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak
Akhir. Jakarta: Prenada.
Taufiq, Agus., dkk.
2016. Pendidikan Anak di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Yusuf L.N,
Syamsu, dan Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta Didik: Mata Kuliah
Dasar Profesi (MKDP) Bagi Para Mahasiswa Calon Guru di Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan (LPTK). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
[1]
Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak: Sejak Pembuahan Sampai
dengan Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2012) hal. 44-47.
[2]
Syamsu Yusuf L.N dan Nani M. Sugandhi, Perkembangan Peserta Didik: Mata Kuliah Dasar
Profesi (MKDP) Bagi Para Mahasiswa Calon Guru di Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011) hal. 10.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1991), hal. 28.
[5]
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Kencana, 2011), hal169.
[8] Christiana Hari
Soetjiningsih, Perkembangan Anak: Sejak…, hlm181.
[12]
Agus Taufiq, dkk., Pendidikan Anak di SD, (Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka, 2016), hlm
No comments:
Post a Comment